Sabtu, 19 Jumadil Akhir 1435 / 19 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Beginilah Kronologis Alif Dipaksa Beri Contekan

Kamis, 16 Juni 2011, 15:03 WIB
Komentar : 0
pdk.or.id
Aksi mencontek massal terjadi dalam ujian nasional (ilustrasi)
Aksi mencontek massal terjadi dalam ujian nasional (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA - Tidak sedikitpun keraguan yang tersirat di wajah Alif, siswa SDN II Gadel, Tandes, Surabaya, ketika disuruh menjelaskan bagaimana proses dirinya 'diajarkan' oleh oknum guru untuk membuat dan menyebarkan contekan jawaban Ujian Nasional (UN) kepada siswa lain di sekolahnya.

Waktu itu, kurang satu hari sebelum UN digelar, Alif mengaku diajak oleh oknum guru untuk melakukan sebuah simulasi.

"Pas itu, H-1 ada simulasi caranya membuat contekan. Saya disuruh menulis di kertas. Umpama No. 01 jawabannya A, maka saya menuliskannya 011," ungkapnya dalam teleconference di gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Kamis (16/6).

Untuk menyebarkan kunci jawaban praktis yang telah dibuatnya, Alif pun diperintahkan untuk menghadapkan Lembar Jawaban Komputer (LJK) miliknya ke arah teman-temannya yang duduk di belakangnya.

"Pas ngerjain LJK dihadapkan ke belakang," sambungnya.

Kecurangan yang diinisiasi pihak sekolah tersebut akhirnya terbongkar 4 hari sesudah UN selesai digelar.

Ibunda Alif, Siami, awalnya mendapatkan informasi praktik ketidakjujuran tersebut dari wali murid lainnya, yang mendapat informasi dari anak-anak mereka bahwa Alif, anaknya, diplot memberikan contekan.

Alif sendiri tadinya tidak pernah menceritakannya pada sang bunda. Namun, akhirnya ia mengakui bahwa dirinya sejak tiga bulan sebelum UN itu dipaksa oleh gurunya agar mau memberi contekan kepada seluruh siswa kelas 6 di sekolahnya.

Reporter : C13
Redaktur : Didi Purwadi
Apabila seseorang mengafirkan temannya, maka ucapan (yang mengafirkan) itu benar-benar kembali kepada salah seorang di antara keduanya (yang mengatakan atau yang dikatakan). ( HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar
  odoy Kamis, 16 Juni 2011, 19:50
bukan guru yang salah tapi sistem yang salah !, jika hasil UN tidak dipakai untuk seleksi ke sekolah yang lebih tinggi, maka tak akan ada kecurangan yang terjadi ....mbo !makanya rubah sistemnya jika bangsa ini ingin punya nilai kejujuran !!! pak mentrinya jangan ikutan ngaco !
  karman Kamis, 16 Juni 2011, 18:48
ya mudah-mudahan ga ada lagi kecurangan kita berdoa saja sikap yg sepeti itu hilang dari bangsa ini...
  ADE OGANZ SUPRIATNA Kamis, 16 Juni 2011, 17:37
tangkap dan adili siapa saja yang terbukti melakukan tindakan ini, mereka harus dihadapkan kepada meja hijau.
bila hal ini berlalu begitu saja maka kebobrokan aparatur negara sudah pada titik nadir, sehingga perlu pemangkasan 2 atau 3 generasi.
Solusinya adalah REVOLUSI.
  alfie Kamis, 16 Juni 2011, 16:02
ah, nama judul dengan isi artikel gak sama.. kronologis itu harusnya yg detail.. gmn sich.. kok jadi kayak detik yg judulnya suka2nya, biar banyak yg baca..
  wedar Kamis, 16 Juni 2011, 15:56
Benar-benar sudah menjadi momok yang menakutkan sebuah UN...guru seharusnya dapat bertindak arif, seharusnya guru lah yang memberi "contekan" yaitu berupa do'a dan usaha...karena do'a dan di sertai usaha yang jujur itulah sebenarnya contekan....