Kamis, 9 Ramadhan 1439 / 24 Mei 2018

Kamis, 9 Ramadhan 1439 / 24 Mei 2018

Tim Asyik: Pernyataan 2019 Ganti Presiden Hak Berekspresi

Selasa 15 Mei 2018 16:24 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Bayu Hermawan

Pasangan Calon Gubernur Jawa Barat dari Partai Koalisi Asyik, Sudrajat (kiri) - Ahmad Syaikhu berfoto saat melakukan pertemuan di Jakarta, Kamis (1/3).

Pasangan Calon Gubernur Jawa Barat dari Partai Koalisi Asyik, Sudrajat (kiri) - Ahmad Syaikhu berfoto saat melakukan pertemuan di Jakarta, Kamis (1/3).

Foto: Republika/Prayogi
Tim Asyik menyayangkan adanya pihak yang emosi dengan kata 2019 Ganti Presiden.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Ketua Tim Pemenangan Paslon Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik), Haru Shuandaru angkat bicara terkait kericuhan dalam debat publik Pilkada Jawa Barat di Universitas Indonesia, Depok, pada Senin (14/5) malam. Haru menegaskan, kata-kata 2019 Ganti Presiden yang disampaikan Paslon Asyik di akhir debat merupakan hak berekspresi yang dijamin undang-undang dasar.

Oleh karena itu, Haru mengatakan pihaknya menyayangkan keributan yang terjadi pascapasangan Asyik menyampaikan kata-kata itu. Menurutnya, jika semua pihak yang hadir mengedepankan semangat demokrasi, maka keributan tidak akan terjadi. "Kami menyayangkan tindakan kasar yang dilakukan oleh oknum pendukung pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat lain yang bertindak mengedepankan emosi dan mengabaikan semangat demokrasi," ujarnya, Selasa (15/5).

Haru mengatakan, pihaknya yakin bahwa apa yang disampaikan pasangan Asyik di penghujung debat publik tersebut merupakan hak kebebasan berekspresi. Hal itu, di jamin oleh konstitusi UUD 1945. Pesan #2019GantiPresiden merupakan aspirasi sebagian masyarakat Jawa Barat yang menghendaki pergantian kepemimpinan nasional. "Dan kami selaku calon pemimpin Jawa Barat wajib menyuarakannya," ucapnya.

Haru menilai, tidak ada pelanggaran hukum yang terjadi dalam penyampaian aspirasi tersebut, baik berdasarkan UUD 1945, peraturan perundangan-undangan terkait, hingga peraturan kampanye KPU. "Kami meminta Bawaslu Jabar bertindak netral dan tidak terpengaruh berbagai tekanan yang hendak memprovokasi pelaksanaan Pilgub Jabar 2018 yang aman dan damai," katanya.

Melalui penyampaian aspirasi tersebut, Haru mengatakan pasangan Asyik tidak memiliki intensi apapun selain menyampaikan aspirasi masyarakat Jabar. Selain itu, pihaknya selalu berkomitmen untuk terus mengikuti rangkaian Pilgub Jabar 2018 dengan mengedepankan semangat demokrasi positif guna terwujudnya Provinsi Jabar yang maju, bertakwa, aman dan sejahtera.

(Baca: Debat Cagub Jabar di UI Depok Diwarnai Kericuhan)

Debat publik calon gubernur Jawa Barat (cagub Jabar) di Balairung Kampus Universitas Indonesia (UI), Depok, sempat diwarnai kericuhan, Senin (14/5) malam. Kericuhan yang berasal dari para pendukung terjadi setelah closing statement (pernyataan penutup) pasangan calon gubernur Sudrajat dan Syaikhu (Asyik) yang diusung Gerindra-PKS.

Saat itu Sudrajat sampai di ujung pernyataannya dan Syaikhu tiba-tiba mengeluarkan kaos bertuliskan 2018 Asyik Menang, 2019 ganti presiden. "Kalau Asyik menang, insya Allah 2019 kita akan ganti presiden," kata Sudrajat.

Aksi pasangan itu ternyata memancing emosi pendukung pasangan Hasanudin-Anton Charliyan (Hasanah) yang diusung PDIP. Suasana tiba-tiba ricuh dari area kursi pendukung. Para pendukung pasangan Hasanah tampak meluapkan emosinya.

(Baca juga: Bawaslu: KPU Jabar Kecolongan Soal Insiden Ganti Presiden)

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES