Rabu, 9 Sya'ban 1439 / 25 April 2018

Rabu, 9 Sya'ban 1439 / 25 April 2018

'Koalisi Seperti KMP-KIH Kemungkinan tak Terjadi di 2019'

Jumat 12 Januari 2018 17:17 WIB

Rep: Ali Mansur/ Red: Bayu Hermawan

Ilustrasi Surat Suara

Ilustrasi Surat Suara

Foto: Republika/Edwin Dwi Putranto

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat politik dari Universitas Brawijaya Malang Anang Sudjoko menilai, keputusan Mahkamah Konstitusi menetapkan presidential threshold sebanyak 20 persen akan kembali memunculkan bentuk koalisi besar di Pilpres 2019. Namun, menurutnya tidak bisa dipastikan koalisi pengusung Capres di Pilpres 2019 akan sama seperti Pilpres 2014.

"Namun bentuk koalisi itu, saya yakin tidak akan mengulang Koalisi Indonesia Hebat (KIH) dan Koalisi Merah Putih (KMP). Karena dalam dunia politik itu tidak akan ada kawan atau lawan yang abadi. Ditambah beberapa partai yang dulu masuk di KMP sekarang sudah menyeberang," ujar Anang Sudjoko, saat dihubungi melalui telepon, Jumat (12/1).

Anang melanjutkan, meski banyak peluang-peluang yang bakal terjadi, tapi tidak akan terjadi dua koalisi yang sama. Menurutnya, peluang-peluang yang terjadi itu tetap mengedapankan kepentingan yang mengatasnamakan calon presiden yang nanti akan diusung. Maka kesamaan kepentingan inilah yang nanti akan membentuk koalisi.

"Memang Muncul kemungkinan Joko Widodo akan naik lagi, tapi apakah akan didukung KIH saja, pastinya tidak. Karena ada beberapa partai dari KMP yang lari ke KIH, itu akan terjadi perubahan-perubahan," katanya.

Selain itu, Anang juga berpendapat dengan ketetapan presidential threshold atau ambang batas pencalonan presiden 20 persen itu berpeluang memunculkan calon tunggal. Namun peluang calon tunggal itu bisa muncul dapat diprediksi dari hasil Pileg nanti. "Apakah akan mengeluarkan jago baru atau tidak, tidak bisa diprediksi saat ini," ujarnya.

Anang mengatakan, saat ini yang menjadi tren adalah siapa yang akan mendampingi Presiden Joko Widodo, isu tersebut sangat santer. Beberapa partai yang keluar dari KMP kemungkinan yang tinggal itu hanya Gerindra. Kemudian apabila Gerindra itu mempunyai elektabilitas yang semakin turun, maka akan ada kecenderungan akan terjadinya calon tunggal.

"Jadi kuncinya ada Gerindra. Bargain posisi inilah bisa kita lihat, jadi itu akan merangkul siapa. Saat ini sudah ada wacana itu, karena Jokowi presiden wakilnya siapa, dari partai mana? Contoh seperti Muhaimin yang sudah mulai muncul," jelas Anang Sudjoko.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA