Selasa , 24 October 2017, 07:32 WIB

Sikap AS Justru Menguntungkan Panglima Gatot?

Red: Teguh Firmansyah
Antara/Wahyu Putro A
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu (kedua kiri) bersama Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo (kedua kanan), KASAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto (kanan) dan Irjen Kemhan Letnan Jenderal TNI Agus Sutomo (kiri) mengikuti rapat kerja dengan Komisi I DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (18/10).
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu (kedua kiri) bersama Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo (kedua kanan), KASAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto (kanan) dan Irjen Kemhan Letnan Jenderal TNI Agus Sutomo (kiri) mengikuti rapat kerja dengan Komisi I DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (18/10).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Amerika Serikat telah meminta maaf atas insiden Panglima Gatot Nurmantyo. Gatot sebelumnya dilarang masuk ke AS saat hendak memenuhi undangan Kepala Staf Gabungan Militer AS Joseph Dunford.  Kendati demikian, hingga kini, AS tak mau menjelaskan alasan mengapa Gatot sampai bisa dilarang masuk.

Aaron Connely, seorang peneliti di Lowly Institute for International Police berpendapat, kemungkinan Gatot dilarang masuk hanya karena kesalahan administrasi.

Namun kesalahan ini bisa dipakai Gatot untuk kepentingan politiknya, mengingat hubungan ia yang kurang selaras dengan presiden dan pejabat tinggi lain.

"Saya kira patut ditekankan, mengingat sejarah Gatot, ia bukan saksi yang paling kredibel," ujarnya seperti dikutip Washington Post, Selasa (23/10). "Tapi persoalan ini menempatkan presiden dan menteri luar negeri serta menteri pertahanan berada dalam satu posisi untuk mempertahankan Gatot, karena saat ini ia berada dalam posisi beraliansi untuk mempertahankan rasa kehormatan bangsa."

Insiden ini, kata dia, mendapat perhatian cukup besar di media-media Indonesia. Rakyat menaruh perhatian atas kasus ini. "Mengulangi narasi panjang tentang AS yang tak menghargai militer Indonesia dan melanjutkan drama politik yang melibatkan ambisi Gatot," ujarnya.  

Panglima Gatot mendapat perhatian cukup besar di media-media Indonesia dalam beberapa waktu terakhir. Dari mulai aksi 212, pernyatannya tentang komunis hingga soal senjata ilegal. Banyak pihak menganggap Gatot memiliki ambisi politik, kendati ia telah membantahnya. Sejumlah survei menempatkan Gatot masuk sebagai calon potensial dalam persaingan pilpres 2019.