Kamis , 05 October 2017, 22:15 WIB

Jokowi Dinilai Untungkan Elektabilitas Parpol Pendukung

Rep: Dian Erika Nugraheny/ Red: Bilal Ramadhan
EPA/Mick Tsikas
Presiden Joko Widodo
Presiden Joko Widodo

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum DPP Taruna Merah Putih (TMP) PDIP Maruarar Sirait, mengatakan sosok Joko Widodo (Jokowi) adalah magnet elektoral yang efektif untuk parpol pendukungnya. Meski demikian, respons positif terhadap hasil pemerintahannya tetap dinilai tidak sempurna.

Menurut Maruarar, Jokowi bukan hanya menjadi magnet elektoral yang positif bagi PDIP. Sebagai calon presiden (capres pun) elektabilitasnya diperkirakan tetap tinggi untuk Pemilu 2019.

"Sebab suara untuk Jokowi bukan hanya dari PDIP. Dari parpol lain pun ada yang memilih Jokowi," ujar Maruarar dalam paparan survei SMRC tentang dukungan parpol pada tiga tahun pemerintahan Jokowi di Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (5/10).

Dia pun melanjutkan, kondisi internal PDIP masih didukung oleh sosok Megawati Soeakarnoputri. "Ibu Mega efektif menguatkan dukungan di internal dan dukungan secara ideologi," tambahnya.

Sementara itu, Politikus Partai Golkar, Ace Hasan Syadzily, mengatakan jika partainya tetap berada di jalur yang benar saat tetap mendukung Jokowi. Magnet elektoral Jokowi berpengaruh positif bagi suara untuk Partai Golkar.

"Sekarang tinggal bagaimana pengaruh positif dan kepuasan kepada pemerintahan Jokowi ini dapat diselaraskan dengan elaktabilitas bagi Golkar ke depan," katanya.

Berbeda dengan Golkar dan PDIP, Partai Demokrat mempunyai catatan evaluasi terhadap pemerintahan Kabinet Kerja. Wakil Sekjen Demokrat, Didi Irawadi Syamsuddin, meminta parpol pendukung Jokowi tak melakukan klaim sepihak atas keberhasilan itu.

Sebab, pihaknya menilai keberhasilan program pembangunan infrastruktur saat ini adalah kelanjutan dari perencanaan pemerintahah sebelumnya. "Proyek jalan tol itu sudah dimulai perencanaannya sejak presiden-presiden terdahulu. Program dana desa digagas pada saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyoni dan direalisasikan pada pemerintahan Jokowi. Jangan lupa bahwa potensi korupsi dana desa tinggi dan pada akhirnya tercatat ada korupsi dana desa," jelas Didi.

Sebelumnya,Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Djayadi Hanan, mengatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, masih menjadi dua nama paling potensial dalam bursa Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Persentase dukungan terhadap dua figur ini jauh melampaui tokoh-tokoh lain.Djayadi menuturkan, jika pilpres digelar saat survei, maka kecenderungan nama yang pertama muncul dalam pikiran responden (top of mind) adalah Jokowi (39 persen), Prabowo (12 persen) dan Susilo Bambang Yudhoyono (1,6 persen).

Berita Terkait