Kamis , 10 Agustus 2017, 11:18 WIB

Komunikasi Politik Emil ke Elite Politik Harus Lebih Intens

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Andi Nur Aminah
Republika/Edi Yusuf
Wali Kota Bandung Ridwan Kamil
Wali Kota Bandung Ridwan Kamil

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Eksekutif Developing Countries Studies Center (DCSC), Zaenal A Budiyono menilai, Ridwan Kamil kurang atau tidak memiliki kemampuan komunikasi politik ke elite politik, sebaik apa yang ia tunjukkan ke publik. Masalah itulah yang membuat pria yang akrab disapa Kang Emil itu sulit dipinang oleh partai-partai besar untuk maju pada Pilgub Jabar 2018.

"Memang ia telah berusaha melakukan itu, namun sepertinya frekuensi komunikasi RK dan para elit parpol berbeda atau belum ketemu. Hal inilah yang membuat namanya (untuk sementara) terpinggirkan," kata Zaenal saat dihubungi Republika.co.id, Kamis (10/8).

PDIP misalnya, secara tegas meminggirkan Ridwan Kamil karena dianggap tidak sesuai dengan gaya partai. Padahal, lanjut Zaenal, dalam banyak momen sebelumnya, Ridwan Kamil terlihat hadir di acara-acara PDIP. Poinnya, sebagai partai besar, PDIP tentu berharap calon-calon kepala daerah yang diusungnya sepenuhnya berjalan di atas skenario yang disiapkan partai.

"Ini wajar saja karena partai juga memiliki ideologi dan platform yang harus diakomodasi. Di sini saya lihat gaya RK tidak begitu ketemu dengan kultur di PDIP. Mungkin partai lain juga demikian," ucap Zaenal.

Zaenal melanjutkan, kurang lihainya komunikasi politik Ridwan Kamil dengan elit politik berbanding terbalik dengan komunikasi publiknya. Dimana, selama ini Ridwan Kamil dikenal sebagai politisi yang lihai dalam komunikasi publik, khususnya terhadap kalangan millenial.

"Indikatornya bisa dilihat dari popularitas RK di sosial media, bahkan ia menjadi role model bagi anak-anak muda. Momen ketika ia bertelanjang dada merayakan kemenangan Persib bersama bobotoh, menjadi viral. Begitu pun ungkapan-ungkapan ringannya yang diikuti banyak netizen," tambah Zaenal.

Seperti diketahui, kemungkinan Kang Emil mendapat dukungan dari partai besar seperti PDIP dan Golkar di Pilgub Jabar terancam pupus. Itu setelah kedua partai tersebut disebut-sebut telah menutup pintu bagi Kang Emil dan lebih memilih dukung Dedi Mulyadi. Begitu pun dengan partai besar lainnya seperti Gerindra dan PKS. Keduanya disebut-sebut ingin mengulang kesuksesan koalisi di Pilgub DKI, meskipun hingga kini calon yang akan diusungnya belum diketahui.