Selasa , 28 March 2017, 06:33 WIB

'Tan Malaka Dikenal Sebagai Aktivis, Gerilyawan Hingga Dituduh Mata-Mata'

Red: Bilal Ramadhan
Antara/Prasetia Fauzani
Pengunjung mengamati tugu peringatan yang dipercaya sebagai lokasi eksekusi mati pahlawan nasional Tan Malaka di pinggir sungai Brantas, Desa Petok, Kediri, Jawa Timur, Rabu (18/1).
Pengunjung mengamati tugu peringatan yang dipercaya sebagai lokasi eksekusi mati pahlawan nasional Tan Malaka di pinggir sungai Brantas, Desa Petok, Kediri, Jawa Timur, Rabu (18/1).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejarawan asal Belanda Harry A Poeze menilai Tan Malaka memiliki 14 karakter dan dikenal dunia internasional sebagai tokoh yang berhasil melakukan penyamaran di sejumlah negara selama 20 tahun. "Tan Malaka dikenal sebagai pemikir, aktivis, gerilyawan, diplomat, hingga dituduh sebagai mata-mata," kata Harry A Poeze pada diskusi publik "Pemikiran dan Perjuangan Tan Malaka" di Gedung MPR/DPR/DPD RI di Jakarta, Senin (27/3).

Menurut Harry A Poeze, Tan Malaka setelah selama sekitar 20 tahun mengembara di Asia dan Rusia, kembali ke Indonesia pada 1942. Setelah kembali ke Indonesia, katanya, Tan Malaka yang menjadi tokoh pelarian tetap menyamar dengan menggunakan beberapa nama.

Sejarawan dari Universitas Indonesia, Mohammad Iskandar menilai, Tan Malaka adalah pejuang yang kesepian dan tokoh misterius. Tan Malaka dalam perjuangannya, kata dia, berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lainnya dan dari suatu negara ke negara lainnya, dengan berganti-ganti-nama.

"Kelebihan Tan Malaka adalah mengusai sejumlah bahasa dan menggunakannya secara fasih," katanya.

Pada saat Tan Malaka tinggal di Banten, dia menggunakan nama Ilyas Husein. Seorang keturunan Tan Malaka, Hengky Novaron Arsil mengatakan, Tan Malaka lahir di Nagari Pandan Gadang, Sumatera Barat, pada 1894. Menurut dia, Tan Malaka kecil hidup dalam keluarga yang relijius, tapi gemar bermain layang-layang dan sepak bola. Tan Malaka yang di kampungnya bernama Ibrahim, kata dia, dikenal sebagai anak yang cerdas tapi nakal.

"Pada usia 16 tahun, Tan Malaka sudah hafal Alquran, dan mendapat beasiswa untuk belajar di sekolah guru Fort De Kock di Bukittinggi, tempat sekolah anak-anak priyayi," katanya.

Tan Malaka kemudian melanjutkan pendidikan ke Belanda. Di Belanda, Tan banyak belajar soal politik. Hengku juga mengakui, memiliki pemikiran yang revolusioner dan mengembara dari satu negara ke negara lainnya, selama 20 tahun, pada 1922-1942, dengan menyamar. Menurut dia, Tan Malaka sukses dalam penyamarannya menggunakan 23 nama berbeda, karena fasih menggunakan sejumlah bahasa, baik bahasa Indonesia, Inggris, Belanda, Rusia, Filipina, dan bahasa lainnya.

Sumber : Antara