Rabu , 18 May 2016, 18:18 WIB

Panitia Simposium Tragedi 1965 Serahkan Hasil Rekomendasi

Red: Bilal Ramadhan
Republika/Raisan Al Farisi
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan memukul gong sebagai tanda dibukanya Simposium Nasional yang bertema Membedah Tragedi 1965, Pendekatan Kesejarahan di Jakarta, Senin (18/4). (Republika / Raisan Al Farisi )
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan memukul gong sebagai tanda dibukanya Simposium Nasional yang bertema Membedah Tragedi 1965, Pendekatan Kesejarahan di Jakarta, Senin (18/4). (Republika / Raisan Al Farisi )

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Panitia Simposium Tragedi 1965 menyerahkan hasil rekomendasi kepada Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan di Jakarta, Rabu.

"Ini pertama kali panitia menyerahkan hasil simposium kepada Menkopolhukam. Tentunya Menkopolhukan dan timnya perlu mendalami rekomendasi tersebut," kata Panitia Pengarah Simposium Tragedi 1965 Agus Widjojo seusai bertemu dengan Luhut.

Dia tidak memeberitahukan berapa banyak rekomendasi yang telah dirumuskan oleh panitia. "Tidak penting berapa banyak rekomendasi yang kami berikan, yang penting rekomendasi itu merujuk pada penyelesaian non-judisial," kata Agus yang juga menjabat sebagai Gubernur Lemhanas.

Mengenai rekonsiliasi, Agus menjelaskan simposium tersebut tidak berambisi langsung mencapai rekonsiliasi. Langkah mengadakan simposium ini, lanjutnya, tidak percuma. Ini pertama kali setelah 50 tahun lebih bangsa Indonesia mau menyelesaikan HAM berat masa lalu, sesuai dengan keinginan pemerintah Indonesia sendiri.

Dia juga mengatakan tidak ada perpecahan ditubuh Lemhanas menyangkut simposium tersebut mengingat hingga sekarang masalah komunisme di Indonesia masih tabu dibicarakan. Panitia Tragedi 1965 akan kembali bertemu Menkopolhukam pada Jumat (20/6) untuk mengetahui hasilnya.

Simposium Tragedi 1965 dilaksanakan pada 18-19 April di Jakarta dengan menghadirkan 200 orang yang terlibat dalam peristiwa tersebut, baik korban, pelaku, pengamat, serta aktivis.

Sumber : Antara