Kamis , 22 Oktober 2015, 21:53 WIB

'Reshuffle Bukan Mantra Sim Salabim'

Rep: C05/ Red: Karta Raharja Ucu
ANTARA
Presiden Joko Widodo (kedua kanan) didampingi Wapres Jusuf Kalla (kanan) bersama memimpin rapat terbatas bersama sejumlah Menteri Kabinet Kerja di Kantor Presiden Jakarta, Selasa (10/2).
Presiden Joko Widodo (kedua kanan) didampingi Wapres Jusuf Kalla (kanan) bersama memimpin rapat terbatas bersama sejumlah Menteri Kabinet Kerja di Kantor Presiden Jakarta, Selasa (10/2).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo dinilai tidak perlu melakukan perombakan kabinet sekarang. Sebab, menurut pengamat politik dari Centre For Strategic Indonesia Studies (CSIS), J Kristiadi perombakan kabinet bukan jaminan pemerintahan Kabinet Kerja akan berjalan lebih baik.

"Jadi jangan anggap perombakan kabinet layaknya mantra sim salabim. Yakni kondisi pemerintahan langsung berubah menjadi baik saat hal tersebut dilaksanakan," ujarnya dalam diskusi di Dewan Pers, Kamis (22/10).

Menurutnya, dengan perombakan kabinet yang terjadi justru instabilitas internal kabinet. Sebab, menurutnya akan ada tarikan tarikan politik yang berhasrat untuk masuk dalam pemerintahan. Ujung-ujungnya proses konsolidasi Pemerintahan Jokowi menjadi terhambat, kata dia.

Apalagi menurutnya, Kabinet Kerja baru berjalan satu tahun. Istilahnya, kata dia, menteri-menteri masih dalam tahap mencari gaya terbaiknya dalam bekerja.

"Lebih baik Jokowi fokus memanaskan mesin birokrasinya. Agar mereka bisa diajak berlari," ujar dia.

Terkait PAN yang diisukan masuk Kabinet Kerja, baginya waktu kurang tepat. "Biarkan Jokowi bekerja dahulu sekarang. Jangan terlalu sering bongkar pasang di kabinet," ucap Kristiadi.