Ahad , 23 February 2014, 20:38 WIB

Survei: Publik Masih Harapkan Capres dari Militer

Red: Taufik Rachman
Republika/Yasin Habibi
Pengundian Nomor Urut Parpol
Pengundian Nomor Urut Parpol

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Tokoh berlatar belakang militer masih didambakan publik untuk menjadi presiden ataupun wakil presiden, karena dalam setiap survei yang dilakukan lembaganya, harapan publik kepada sosok berlatar belakang militer selalu mengemuka, kata Direktur Eksekutif Lembaga Survei Nasional (LSN), Umar S Bakry.

Dalam keterangan persnya di Jakarta, Minggu, Umar mengatakan, terhadap peranyaan kepada publik mana lebih diinginkan, capres berlatar belakang sipil atau militer, lebih dari 60 persen responden masih menghendaki tokoh dengan latar belakang militer.

Umar menyatakan, publik merindukan seorang pemimpin yang tegas dan dalam asosiasi publik sikap tegas itu umumnya menjadi karakter seorang militer.

"Itulah alasan mengapa capres dan cawapres berlatar belakang militer lebih didambakan publik," katanya.

Peneliti Pol-Tracking Institute, Agung Baskoro menyatakan senada dengan Umar S Bakry, bahwa tokoh berlatarbelakang militer masih sangat dibutuhkan, bahkan, posisinya sangat strategis.

"Maka, bila presidennya berasal dari kalangan sipil, idealnya wakil presiden berasal dari kalangan berlatar belakang militer. Begitu pun sebaliknya, bila presidennya berlatar militer, maka wakilnya berasal dari kalangan sipil. Duet sipil-militer akan saling melengkapi," kata Agung.

Menurut Agung, capres atau cawapres berlatar belakang militer sangat, karena mereka setidaknya mempunyai pengetahuan dan pemahaman yang lengkap tentang pertahanan dan keamanan di negeri ini.

"Kenapa mereka layak untuk dipertimbangkan, karena  mereka memiliki track record yang panjang dalam mengelola pertahanan dan keamanan negeri ini," ujarnya.

Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Ari Junaedi mengatakan, menjelang pemilihan presiden, wacana seorang calon presiden atau wakil presiden harus berlatar belakang militer terus mengemuka.

"Jika presidennya berasal dari purnawirawan militer, alangkah tepat jika wakil presidennya berlatar belakang sipil. Demikian juga sebaliknya, jika nantinya RI  1 berasal dari sipil, sebaiknya pendampingnya berlatar belakang militer," katanya.

Sumber : antara