Kamis, 2 Zulqaidah 1435 / 28 Agustus 2014
find us on : 
  Login |  Register

Apakah Indonesia Sudah Lebih Baik dengan Demokrasi?

Kamis, 04 Juli 2013, 16:16 WIB
Komentar : 1
matthewmachowski.com
Demokrasi: politik atau agama (ilustrasi).
Demokrasi: politik atau agama (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, PURBALINGGA --  Iklim kehidupan demokrasi yang dilaksanakan di Indonesia sejak era reformasi, belum membawa masyarakat pada kehidupan yang lebh baik.

Ketua DPD Persatuan Purnawirawan dan Warakawuro TNI dan POLRI (Pepabri) Provinsi Jateng Mayjen TNI (Purn) Suryo Hariyanto, tidak menganggap bahwa demokrasi tidak cocok diterapkan di Tanah Air.

''Namun karena kehidupan demokrasi kita masih lebih banyak dimaknai secara sempit, sehingga sampai saat ini kehidupan berkembangsaan kita masih saja diributkan dengan hal-hal yang justru menyimpang dari nilai-nilai demokrasi,'' jelas Suryo, saat membuka Musyawarah Cabang (Muscab) Pepabri Purbalingga, Kamis (4/7).

Dia menyebutkan, penerapan demokrasi di Tanah Air, masih harus terus diuji dengan berbagai persoalan. Antara lain, berupa unculnya konflik horizontal yang berkaitan dengan kebhinekaan, sistem birokrasi yang masih saja korup dan tidak akuntabel, euforia menyatakan pendapat yang keblabasan, serta krisis keteladanan dari para pemimpin.

Bahkan iklim demokrasi yang kemudian dibangun saat ini, justru berkembang menjadi demokrasi yang bersifat transaksional. Kondisi inilah yang justru menyebabkan iklim demokrasi yang dibangun, tidak memberi dampak terhadap terciptanya kehidupan masyarakat yang lebih baik.

Demokrasi, hanya sekadar memberi peluang bagi elit-elit politik yang haus kekuasaan untuk saling berebut kekuasaan.

''Sebenarnya, kalau masyarakat memahami demokrasi secara utuh dan benar, akan berdampak positif. Namun karena demokrasi dimaknai secara sempit, akibatnya iklim demokrasi yang sudah dibangun sejak era reformasi tahun 1998, tidak memberi pengaruh signifikan bagi kesejahteraan masyarakat,'' jelasnya.

Suryo menilai, jika pemahaman demokrasi seperti ini masih terus berlanjut, maka berbagai problem termasuk berbagai jenis kekerasan dan tindak anarkis, akan terus meluas dan dampak kerusakannya akan semakin besar.

Untuk itu, dia berharap adanya gerakan untuk introspeksi dan evaluasi bersama untuk menemukan kekurangan, kelemahan sekaligus kekuatan yang dimiliki bangsa ini.

Reporter : Eko Widyanto
Redaktur : A.Syalaby Ichsan
Senyummu kepada saudaramu merupakan sedekah, engkau memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran juga sedekah, engkau menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat juga sedekah, engkau menuntun orang yang berpenglihatan kabur juga sedekah, menyingkirkan batu, duri, dan tulang dari jalan merupakan sedekah((HR Tirmidzi))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

Berita Lainnya

Sidarto Diharapkan Bisa Teruskan Perjuangan Taufik Kiemas

PDIP Tetapkan Pengganti Taufik Kiemas di MPR RI

Komisi III: KPK Terkesan Seperti 'Melawan' DPR