Jumat, 10 Jumadil Awwal 1434 / 22 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

ICMI: Presiden tak Perlu Tanggapi Isu Kudeta

Senin, 18 Maret 2013, 03:25 WIB
Komentar : 1
Antara
Nanat Fatah Natsir

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Presidium Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Prof Nanat Fatah Natsir mengatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak perlu berlebihan menanggapi isu kudeta terhadap pemerintahan karena kecil kemungkinan hal itu bisa terjadi.

"Siapa yang akan melakukan kudeta. Kudeta hanya bisa dilakukan oleh pihak-pihak yang memiliki senjata. Elite politik dan rakyat tidak ada yang memiliki senjata," kata Nanat Fatah Natsir dihubungi di Jakarta, Minggu.

Mantan rektor UIN Bandung itu mengatakan Presiden Yudhoyono lebih baik fokus pada tugas sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan yang tinggal kurang dari dua tahun, yaitu 2013 dan 2014.

Menurut Nanat, masih banyak tugas yang lebih penting dan harus diselesaikan Presiden Yudhoyono sebelum masa jabatannya berakhir yaitu menata pemerintahan dan menyelesaikan kasus-kasus besar.

"Tugas pemerintahan kepada rakyat masih banyak. Kasus-kasus besar seperti Century dan Hambalang juga masih menunggu untuk diselesaikan," tuturnya.

Apalagi, kata Nanat, Presiden Yudhoyono cukup berhasil dalam memimpin Indonesia terutama di bidang demokrasi, politik dan ekonomi. Hal itu terbukti dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup bagus sebagai salah satu negara dengan pendapatan menengah.

"Di saat banyak negara terkena imbas dari krisis global, Indonesia tidak terlalu terpengaruh. Kalau kemudian ada yang melontarkan kritikan, itu hal yang biasa dalam demokrasi," katanya.

Karena itu, dia menyarankan Presiden Yudhoyonoo tidak perlu memikirkan isu kudeta yang bisa menghabiskan energi. Lebih baik energi yang ada digunakan untuk bekerja menyelesaikan tugas sebagai Presiden.

"Apalagi, masyarakat dan elit politik saat ini lebih banyak fokus pada persiapan Pemilihan Umum Legislatif dan Presiden. Kalau ada isu kudeta, siapa yang mau mengudeta?" tanyanya.

Nanat berharap pemerintahan Presiden Yudhoyono tidak mengulang cara-cara Orde Baru yang menggunakan istilah subversif terhadap hal-hal yang dinilai ancaman terhadap pemerintahan.

Redaktur : Taufik Rachman
Sumber : antara
2.756 reads
Sesungguhnya seorang pemimpin itu merupakan perisai, rakyat akan berperang di belakang serta berlindung dengannya. Bila ia memerintah untuk takwa kepada Allah azza wa jalla serta bertindak adil, maka ia akan memperoleh pahala. Namun bila ia memerintah dengan selainnya, maka ia akan mendapatkan akibatnya.(HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
  katib Senin, 18 Maret 2013, 08:55
Dengan adanya K U D E T A, terbuka K E S E M P A T A N untuk 'MEMBERSIHKAN' orang-orang yang H O B B Y berbuat O N A R dari Indonesia.
JANGAN TAKUT malanggar ham Bos !
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda

  VIDEO TERBARU
Geliat Perkembangan Muslim Cina
Pemerintah Komunis berencana untuk membangun masjid di seluruh negeri. Hal ini, merupakan implementasi guna memenuhi tuntutan 20-an juta warga Muslim di negeri itu.Menurut...