Sabtu, 11 Jumadil Awwal 1434 / 23 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Bhatoegana: Anas Sudah Bukan Simbol Partai Demokrat

Jumat, 15 Maret 2013, 10:56 WIB
Komentar : 0
Ketua DPP PD Sutan Bhatoegana (kiri) didampingi Ketua Umum PD Anas Urbaningrum memenuhi janjinya mendatangi keluarga mantan Presiden Abdurrahman Wahid untuk meminta maaf di Ciganjur, Jakarta Selatan, Kamis (29/11). (Republika/Aditya Pradana Putra)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Partai Demokrat percaya rencana KPK memeriksa Anas Urbaningrum dalam kasus dugaan korupsi proyek simulator SIM tidak akan mengganggu elektabilitas partai.

Bagi Demokrat, Anas sudah tidak bisa lagi diidentikan sebagai simbol partai. “Gak ada urusan. Tidak ada efek,” kata anggota Fraksi Partai Demokrat Sutan Bhatoegana ketika dihubungi Republika, Jumat (15/3).

Sutan menyatakan, Partai Demokrat tidak bisa disalahkan atas perilaku menyimpang yang dilakukan kadernya. Dalam konteks itu, dia menganggap, perbuatan  Anas menjadi tanggungjawab pribadi, bukan partai.

“Mereka yang dapat duit. Itu tanggungjawab sendiri tidak ada urusan dengan partai,” ujar Sutan. Apa yang dialami Anas harus menjadi pelajaran bagi kader Demokrat. Sutan mengingatkan kader Partai Demokrat lebih berhati-hati memilih ketua umum saat kongres luar biasa nanti.

Menurutnya figur-figur yang namanya pernah disebut Nazaruddin sebaiknya tidak usah dipilih. “Semua harus berhati-hati mencari ketua umum,” katanya.

Sutan khawatir bila figur yang pernah disebut Nazaruddin terlibat korupsi menjadi ketua umum, hal itu akan membawa dampak negatif bagi partai.

Menurut Sutan, figur-figur yang selama ini disebut Nazaruddin terlibat korupsi nyaris dipastikan menjadi tersangka KPK. “Kalau Nazaruddin nyanyi lagi repot kita. Ini sama saja bunuh diri,” ujarnya.

Sedianya KPK akan memeriksa mantan ketua umum Partai demokrat, Anas Urbaningrum terkait kasus simulator SIM pada Jum'at (15/3).

Reporter : Muhammad Akbar Wijaya
Redaktur : A.Syalaby Ichsan
1.958 reads
Rasulullah SAW melarang membunuh hewan dengan mengurungnya dan membiarkannya mati karena lapar dan haus.((HR. Muslim))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda

Berita Lainnya

Yusuf Supendi Gabung ke Hanura