Sabtu, 11 Jumadil Awwal 1434 / 23 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Majelis Tinggi Demokrat Minta Tak Persoalkan Aklamasi

Rabu, 13 Maret 2013, 17:19 WIB
Komentar : 0
Antara
Amir Syamsudin (file photo)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mekanisme pemilihan ketua umum baru Partai Demokrat dalam kongres luar biasa (KLB) menciptakan friksi baru di internal. Pengurus daerah berpandangan mekanisme pemilihan harus dengan cara demokratis alias terbuka. 

Namun sejumlah elite pusat Demokrat justru berpendapat mekanisme aklamasi sebagai jalan terbaik. "Ya kalau sepakat (aklamasi) memang kenapa? Itu kan demokrasi juga," kata anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat, Amir Syamsuddin kepada wartawan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (13/3).

Menurutnya, mekanisme aklamasi tak perlu dipersoalkan. Sepanjang para pemilik suara sepakat. Meski pun ia juga mengaku belum tahu mekanisme apa yang akan dilakukan saat KLB. 

Amir menegaskan, majelis tinggi memiliki kuasa memutuskan kebijakan strategis partai. Dalam konteks ini untuk menentukan mekanisme pemilihan ketua umum sekaligus menjaring nama calon ketua umum di KLB.

"Majelis tinggi punya posisi strategis. Kebijakan partai ke depan berkiblat ke majelis tinggi tanpa mengabaikan AD/ART partai," kata Amir.

Ketua Fraksi Partai Demokrat, Nurhayati Ali Assegaf mengatakan hal senada. Menurutnya tidak ada perbedaan yang esensial antara mekanisme aklamasi dengan mekanisme terbuka. 

"Proses aklamasi dan terbuka sama saja," ujar Nurhayati.

Nurhayati menolak bila cara aklamasi disebut sebagai kebijakan otoriter. Menurutnya aklamasi dimungkinkan sepanjang kandidat ketua umum telah mengerucut pada satu nama. 

"Kalau misalnya calon yang ada hampir disetujui, tidak perlu voting. Ini (aklamasi) juga bagian proses demokrasi," katanya.

Reporter : Muhammad Akbar Wijaya
Redaktur : Mansyur Faqih
842 reads
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?((QS Ar Rahman))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda

Berita Lainnya

KLB Demokrat 30-31 Maret di Bali

SBY Temui Para Jenderal, Ini Kata Wanbin Demokrat

PDI Perjuangan Tak Khawatir Pertemuan SBY-Prabowo