Sabtu, 11 Jumadil Awwal 1434 / 23 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

FPD: Pak Anas Itu Siapa? Kok Melawan?

Senin, 04 Maret 2013, 12:01 WIB
Komentar : 0
Antara
Ketua Umum Partai Demokrat (kiri) bersama dengan Wasekjen Partai Demokrat Nurhayati Ali Assegaf (tengah)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Fraksi Partai Partai Demokrat Nurhayati Ali Assegaf menegaskan, tidak ada persoalan antara Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dengan Anas Urbaningrum.

Nurhayati juga membantah gerakan mahasiswa anti SBY merupakan bentuk perlawanan dari pendukung Anas. Menurutnya, Anas tidak melawan SBY karena SBY adalah presiden.

"Pak anas itu siapa kok melawan? Pak anas setelah tidak jadi ketum kok ditakutkan, kok dibesar-besarkan," kata Nurhayati di Komplek Parlemen Senayan Jakarta, Senin (4/3).

Wakil Sekjen DPP Partai Demokrat itu menjelaskan, suara-suara dari beberapa kalangan yang meminta pengusutan korupsi di Cikeas harus dimaklumi sebagai bagian dari proses demokrasi. Namun, sebagai warga negara, lanjut Nurhayati, hormat kepada pimpinan negara juga perlu dilakukan. 

"Pak SBY dipilih oleh lebih 60 persen rakyat Indonesia. Artinya ada kepercayaan penuh, beliau jalankan tugasnya misalkan penaikan ekonomi kita, kedua setelah Tiongkok. Ini tolak ukur yang jelas, jangan kita mencari-cari persoalan," ungkapnya.

Setelah Anas Urbaningrum berhenti dari posisinya sebagai ketum Demokrat, beragam dinamika politik terjadi. Aksi-aksi yang menyerang dan membela mantan ketum PB HMI itu juga bermunculan. Secara bersamaan juga timbul beberapa aksi dari kelompok masyarakat seperti mahasiswa yang meminta SBY mengusut korupsi di Cikeas. 

 

 

Reporter : Ira Sasmita
Redaktur : A.Syalaby Ichsan
8.044 reads
Dari Tsauban Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat/mengutuk orang yang menyuap, yang menerima suap dan orang yang menghubungkan keduanya.” ([HR. Ahmad dalam bab Musnad Anshar radhiyallahu ‘anhum])
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda

Berita Lainnya

PAN: KPU Jangan Pilih Kasih dengan Partai Demokrat