Sabtu, 11 Jumadil Awwal 1434 / 23 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

PAN: Kader yang Jadi Kepala Daerah Jangan Pencitraan

Senin, 04 Maret 2013, 06:56 WIB
Komentar : 0
Antara/Puspa Perwitasari
Hatta Rajasa

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Hatta Rajasa mengumpulkan 60 kepala daerah dan wakil kepala daerah yang terafiliasi dengan partainya di Jakarta, Ahad (3/3) malam. Itu dilakukan untuk memberi pengertian agar mereka lebih baik sibuk bekerja demi rakyat, ketimbang ikut memanaskan situasi politik.

Hatta mengakui, 2013 merupakan tahun politik. Sehingga segala sesuatunya bisa menjadi besar lantaran ada yang memainkan. Makanya, PAN tidak ingin kader ikut-ikutan terseret arus permainan politik yang dilakukan sekelompok orang. 

Lebih baik, saran dia, kepala daerah sibuk bekerja dan mengabdikan waktunya untuk pembangunan demi meraih simpati rakyat.

"Kita tahu, tahun politik, masalah kecil timbulkan ketidakpastian," kata Hatta. 

"Sukseskan pemerintahan, tahun politik ingin saya sampaikan fokus pekerjaannya saja. Kalau tak fokus menimbulkan pertanyaan masyarakat," imbuhnya.

Ketua DPP Bara Hasibuan mengklaim kader PAN kurang pandai melakukan pencitraan seperti partai lain. "Tapi, kita sibuk menunjukkan dengan kerja nyata."

Dengan mengumpulkan kader partai yang menjadi kepala daerah atau wakilnya, ia berharap mereka lebih bisa meluangkan waktunya untuk pemerintahan. Bukan menonjolkan unsur kepartaiannya. Hal itu dinilainya tidak akan merugikan PAN, malahan masyarakat bisa bersimpati kalau mereka sukses membangun daerahnya. 

Reporter : Erik Purnama Putra
Redaktur : Mansyur Faqih
5.597 reads
Dari Tsauban Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat/mengutuk orang yang menyuap, yang menerima suap dan orang yang menghubungkan keduanya.” ([HR. Ahmad dalam bab Musnad Anshar radhiyallahu ‘anhum])
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda

Berita Lainnya

Hatta Mengaku Cocok dengan Prabowo