Sabtu, 11 Jumadil Awwal 1434 / 23 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Pengamat: 'Saatnya SBY Tinggalkan Demokrat'

Sabtu, 02 Maret 2013, 12:53 WIB
Komentar : 0
Republika/Yasin Habibi
Susilo Bambang Yudhoyono (file photo)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peneliti dari Indo Barometer, M Qadari mengatakan sebagai Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, SBY memiliki pengaruh yang kuat terhadap partai. Hany saja posisi itu justru dinilainya menjadi salah satu penyebab partai tidak bisa menyelesaikan konflik internal.

Qadari menilai kehadiran SBY justru menjadi variabel konflik dalam Demokrat. Karena itu, ia menyarankan agar SBY mundur dari partai yang telah mengantarnya memenangi pilpres selama dua periode itu. Itu perlu dilakukan agar partai lebih fokus mengurus pemilu yang sudah di depan mata.

"This is the time for SBY to let go," saran Qadari dalam sebuah diskusi bertema 'Panas Efek Anas' di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (2/3).

Saat ini, kata dia, Demokrat sudah tertinggal dari partai kompetitornya. Sebab, hingga saat ini, partai yang identik dengan warna biru itu masih kewalahan mengurus konflik internal. Sementara partai lain sudah berkonsentrasi menyambut pemilu 2014.  

Sekarang, kata dia, saatnya SBY menyerahkan pucuk pimpinan pada generasi berikutnya. Apalagi, mundurnya Anas Urbaningrum dari jabatan ketua umum juga bisa dijadikan momentum untuk segera mencari ketua baru yang diharapkan dapat menaikkan kembali pamor Demokrat.

"Partai sudah mulai dewasa dan punya logika sendiri. SBY harus merelakan," ujar dia.

Senada dengan Qadari, dosen hukum dari Universitas Indonesia Ganjar LB Bondan menyarankan SBY meninggalkan partai yang telah dibesarkannya itu. Menurut dia, hal itu perlu dilakukan demi menyelamatkan masa depan partai itu sendiri.

"Kalau SBY memimpikan Partai Demokrat maju, harusnya saat Demokrat sudah mau berkembang ya tinggalkan," ujar Ganjar menyarankan.


Reporter : Halimatus Sa'diyah
Redaktur : Damanhuri Zuhri
10.890 reads
Tidak ada pezina yang di saat berzina dalam keadaan beriman. Tidak ada pencuri ketika mencuri dalam keadaan beriman. Begitu pula tidak ada peminum arak di saat meminum dalam keadaan beriman.(HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda