Sabtu, 11 Jumadil Awwal 1434 / 23 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Analis: Migrasi Politik Bikin Sakit Demokrasi

Senin, 14 Januari 2013, 17:42 WIB
Komentar : 0
ANTARA/ROSA PANGGABEAN
Atribut kampanye dan bendera partai politik (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Migrasi politik tidak akan berdampak positif bagi demokrasi Indonesia.  Sebaliknya, migrasi politik malah akan membuat demokrasi sakit. Ini karena migrasi politik lebih sering dipicu hal-hal yang bersifat transaksional dan pragmatis.

"Perpidahan kader partai ke partai lain tidak memberi pembelajaran politik yang baik ke masyarakat," kata pengamat politik Universitas Gadjah Mada, Ary Dwipayana kepada Republika, Senin (18/1).

Ary mengatakan migrasi politik bisa dilakukan secara instusional maupun personal. Instusional yakni apabila suatu menyatakan diri bergabung ke dalam partai lain. Sedangkan personal yakni apabila kader suatu partai menyeberang ke partai lain dengan alasan-alasan tertentu.

Fenomena migrasi politik sebenarnya mencerminkan lemahnya motivasi seseorang saat mendirikan partai politik. Peristiwa ini menjadi pertanda buruknya motivasi seseorang ketika memutuskan bergabung ke dalam suatu partai politik.

Ary menyatakan migrasi politik membuktikan partai politik - mereka yang tergabung di dalamnya - hanya mementingkan posisi dan kekuasaan. "Ini tanda partai politik didirikan dengan tujuan pragmatis dan transaksional," ujar Ary.

Migrasi politik belum tentu memberi keuntungan bagi imigran politik maupun partai politik penampung. Ary menyatakan migrasi politik berpotensi memicu komplikasi baru dalam diri partai politik penampung.

Hal ini terjadi karena kader-kader asli  akan merasa diperlakuan tak adil dengan para politisi pendatang. "Mereka yang bermigrasi tentu berharap bisa mendapat posisi sebagai caleg atau pengurus partai. Ini tentu tidak sehat bagi internal partai," terang Ary.

Reporter : Muhammad Iqbal
Redaktur : Ajeng Ritzki Pitakasari
928 reads
Barangsiapa tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya ((HR Bukhari))
VIDEO TERKAIT:
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda