Saturday, 25 Zulqaidah 1435 / 20 September 2014
find us on : 
  Login |  Register

Wapres: Pancasila Sesuai Ajaran Alquran

Wednesday, 04 July 2012, 00:04 WIB
Komentar : 3
Antara
Wakil Presiden RI,  Boediono
Wakil Presiden RI, Boediono

REPUBLIKA.CO.ID, PONTIANAK --  Sejumlah sila dalam Pancasila seluruhnya paralel dengan nilai luhur yang dianut umat Islam sesuai ajaran Alquran sehingga harus sungguh-sungguh melaksanakan prinsip mulia dengan konsisten dan konsekuen. Hal ini dikatakan Wakil Presiden Boediono saat membuka Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional Ke-7 Antar-Pondok Pesantren, Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Internasional Ke-1 Antar-Lembaga Al Quran, Musyawarah Nasional (Munas) Ke-4 Jam`iyyatul Qurra`Wal Huffazh, di Pontianak, Kalimantan Barat, Selasa (3/7).

Hadir dalam acara itu antara lain Menteri Perumahan Rakyat Jan Faried, Gubernur Kalbar Cornelis MH, serta Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Agil Siroj.
Wapres menilai, tidaklah lengkap keislaman seseorang bila masih berbuat zalim kepada sesamanya dan keadilan sebagai nilai universal harus terus diupayakan baik dalam hubungan antar manusia, antar negara, antara pemimpin dan yang dipimpin, antara majikan dan buruh, antara guru dan murid, antara hakim dan yang dihakimi, dan terutama antara yang kuat dan yang lemah.

Kedua nilai utama dalam Islam itu, kata Boediono, yakni Tauhid atau Keesaan Tuhan dan Keadilan sesungguhnya merupakan bagian penting dari ideologi negara kita yang diamanatkan oleh para pendiri negara ini dalam sila-sila yang tercantum dalam Pancasila.

Bagi kaum Muslim, kata Wapres, Alquran merupakan kitab yang diimani bersama, sebagai petunjuk dan penuntun kehidupan untuk memperoleh kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.
Alquran, tambahnya, tidak hanya berisi prinsip-prinsip keimanan, namun juga sumber nilai-nilai universal, ilmu pengetahuan, hingga hikayat kehidupan, yang dikemas dengan bahasa yang indah, penuh dengan filosofi keteladanan, serta pesan moral yang luhur dan agung.

"Alquran memberi tuntunan kepada kita agar membangun kehidupan yang harmonis, saling bertoleransi, hidup dalam kedamaian dan hidup untuk saling mengenal, saling mengasihi, saling memberi maaf, dan tidak membenci satu sama lain," katanya.

Redaktur : M Irwan Ariefyanto
Sumber : antara
Hati-hatilah terhadap dusta. Sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada neraka. Selama seorang dusta dan selalu memilih dusta dia tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta (pembohong)((HR. Bukhari))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Gadai SK, Jadi Cerminan Masalah RUU Pilkada?
 MAKASSAR -- Belakangan ini banyak anggota DPRD terpilih yang menggadaikan SK. Terkaiy hal tersebut pakar komunikasi politik Effendi Gazali menilai itu sebuah hal...