Ahad , 07 August 2011, 21:16 WIB

Jalan Sri Mulyani 'Nyapres' Sangat Terjal

Rep: Ismail Lazarde/ Red: cr01
Antara
Mantan menkeu Sri Mulyani yang sekarang bertugas di Bank Dunia
Mantan menkeu Sri Mulyani yang sekarang bertugas di Bank Dunia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Nama mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani tengah digadang-gadang menjadi calon presiden pada pemilihan umum 2014. Partai Serikat Rakyat Independen (SRI) bahkan sudah terang-terangan bakal mengusung Sri Mulyani yang kini menjabat Managing Director World Bank.

Pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Jakarta, Cecep Effendi, berpendapat, kemunculan Sri Mulyani memang menjadi alternatif figur capres pada 2014 mendatang. Alasannya, sejauh ini belum ada figur baru yang bisa diunggulkan selepas berakhirnya era SBY, Megawati Soekarnoputri, dan Jusuf Kalla.

Namun demikian, kata Cecep, Sri Mulyani tidak akan mulus-mulus saja melenggang sebagai capres. Selain harus mendapatkan jaminan kendaraan politik yang bisa digunakan pencalonan, Sri juga belum bisa membuktikan jejak rekam kemonceran karir birokrasinya di bidang politik.

"Dia lahir dari kalangan profesional terdidik, bukan dari tradisi atau keluarga politik karenanya harus ada tahapan pembuktian," kata Cecep, Ahad (7/8).

Karir birokrasi Sri Mulyani, lanjut Cecep, hanyalah salah satu keuntungan yang bisa memengaruhi pilihan kalangan akademisi, elit politik, negarawan, dan jurnalis. Namun untuk merengkuh simpati dari rakyat miskin, karir birokrasi Sri Mulyani yang mengagumkan tidak bisa dijadikan andalan.

Bagi rakyat miskin, kata Cecep, figur Sri Mulyani belum bisa dipandang sebagai pembawa harapan besar (mesiah) masyarakat pedesaan, nelayan, dan kalangan petani yang identik dengan kemiskinan dan kurang terdidik. "Ibaratnya, bahasa Sri Mulyani ini masih tinggi dan hanya bisa diterima kalangan elit menengah ke atas."

Mengenai aspek gender, Sri Mulyani juga akan menghadapi tantangan yang amat berat. Menurut Cecep, dalam tradisi politik Asia, belum pernah satu pun pemimpin wanita yang mampu membangun kharisma dan merebut simpati rakyat tanpa embel-embel nama besar keluarga di belakangnya.

Cecep mencontohkan Cory Aquino (Filipina), Indira Gandhi (India), dan terakhir Yingluck Shinawatra (Thailand) sebagai daftar pemimpin wanita di Asia yang berhasil berkuasa karena nama besar keluarga di belakangnya.

"Bahkan Megawati pun tanpa Soekarnoputri di belakangnya belum tentu bisa jadi presiden, makanya tantangan Sri Mulyani ini cukup besar," tandas Cecep.