Jumat, 10 Ramadhan 1439 / 25 Mei 2018

Jumat, 10 Ramadhan 1439 / 25 Mei 2018

Cawagub Rindu: Pasangan Asyik tak Perlu Disanksi

Kamis 17 Mei 2018 19:14 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Andri Saubani

Pasangan calon gubernur dan wagub Jawa Barat nomor urut satu Ridwan Kamil (kiri)-Uu Ruzhanul Ulum (kanan) menyampaikan visi dan misinya pada Debat Publik Putaran Kedua Pillgub Jabar 2018 di Balairung Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Senin (14/5).

Pasangan calon gubernur dan wagub Jawa Barat nomor urut satu Ridwan Kamil (kiri)-Uu Ruzhanul Ulum (kanan) menyampaikan visi dan misinya pada Debat Publik Putaran Kedua Pillgub Jabar 2018 di Balairung Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Senin (14/5).

Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Debat publik Pilgub Jabar yang sempat ricuh, digelar di Depok pada Senin (14/5).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Calon wakil gubernur Jawa Barat (cawagub Jabar), Uu Ruzhanul Ulum atau pasangan yang akrab dipanggil Rindu (Ridwan Kamil-Uu), menyayangkan adanya sanksi untuk pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu terkait insiden saat debat kandidat Pemilu Gubernur Jawa Barat. Debat itu sempat ricuh saat digelar di Depok, pada, Senin (14/5).

Perlu diketahui, pasangan calon tersebut dinyatakan bersalah oleh Bawaslu Jawa Barat saat debat kandidat karena mengucapkan dan membawa kaos bertuliskan '2019 Ganti Presiden'. Uu menilai, apa yang dilakukan pasangan yang diusung Gerindra, PKS, dan PAN saat debat kandidat ini biasa saja.

"Menurut saya sah-sah saja, karena ini wilayah politik. Politik selalu memanfaatkan momen, kapanpun dan di manapun," ujar Uu saat dikonfirmasi, Kamis (17/5).

Terlebih, menurut Uu, tidak ada aturan pasti terkait aksi yang dilakukan pasangan nomor urut 3 itu. "Apalagi ini menurut kami tidak ada larangannya," katanya.

Uu mengatakan, tindakan yang dilakukan Sudrajat-Ahmad Syaikhu tersebut tidak terlalu penting dan tidak mengganggu jalannya debat kandidat. "Selama tidak substantif, biarkan saja," katanya.

Baca: Buntut Ricuh Debat Pilgub Jabar, KPU Sanksi Pasangan Asyik.

Uu pun mengingatkan azas kebebasan dalam kehidupan berdemokrasi. Karena, perbedaan pilihan merupakan hal yang biasa dalam kehidupan berdemokrasi.

"Kita harus dewasa dalam berpolitik. Kalau kita ingin demokrasi, harus siap beda, tetapi dengan tujuan yang sama. Selama kita tidak siap beda, kita hidup tidak akan pernah bersama," katanya.

Uu mengatakan, adanya pengaduan dari salah satu pihak terkait hal ini justru akan menguntungkan pasangan yang sering disebut Asyik itu. Dengan dibicarakan seperti saat ini, Uu meyakini popularitas kandidat tersebut akan semakin baik.

"Justru kalau diramaikan, mereka akan lebih untung. Dengan ramai dibicarakan, berarti gerakannya sukses," katanya.

Uu pun menyayangkan adanya pihak-pihak yang masih mempersoalkan hal ini. Semua pihak pun, harus bermurah hati jika ingin kondusivitas Pemilu Gubernur Jawa Barat 2018 terjaga dengan baik.

"Lalu kalau hal itu ditanggapi dengan ramai seperti ini, akan lebih ramai, akan lebih panas situasinya," kata Uu seraya mengatakan, ia tidak ingin Pilgub Jabar ini tercoreng.

Sebelumnya, debat publik cagub Jabar di Balairung Kampus Universitas Indonesia (UI), Depok, Senin malam, sempat diwarnai kericuhan. Kericuhan yang berasal dari para pendukung terjadi setelah pernyataan penutup pasangan calon gubernur Sudrajat dan Syaikhu (Asyik) yang diusung Gerindra-PKS.

Saat itu Sudrajat sampai pada ujung pernyataannya dan Syaikhu tiba-tiba mengeluarkan kaus bertuliskan 2018 Asyik Menang, 2019 ganti presiden. "Kalau Asyik menang, insya Allah 2019 kita akan ganti presiden," kata Sudrajat.

Aksi pasangan itu ternyata memancing emosi pendukung pasangan Hasanudin-Anton Charliyan (Hasanah) yang diusung PDIP. Suasana tiba-tiba ricuh dari area kursi pendukung.

Para pendukung pasangan Hasanah tampak meluapkan emosinya. Padahal ketika itu pasangan nomor 4, yakni Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi, belum menyampaikan clossing statement-nya.

Berkali-kali pemandu acara peminta para pendukung untuk tenang, tetapi tidak berhasil. Teriakan-teriakan masih terus terdengar.

"Mohon tenang, mohon tenang, tidak akan selesai acaranya kalau Anda tidak tenang," pinta pemandu acara, Alvito Deanova.

Namun, suasana terasa makin tidak terkendali dan makin panas. Istri Deddy Mizwar tampak ketakutan sehingga dia lari ke arah panggung menghampiri suaminya.

Tiga pasangan cagub-cawagub pun tampak berusaha menenangkan pendukung supaya tenang. Namun, pasangan Asyik tampak tetap duduk di kursinya.

Ketua Tim Pemenangan Paslon Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik), Haru Shuandaru angkat bicara terkait kericuhan dalam debat publik Pilkada Jawa Barat di Universitas Indonesia, Depok, pada Senin (14/5) malam. Haru menegaskan, kata-kata 2019 Ganti Presiden yang disampaikan Paslon Asyik di akhir debat merupakan hak berekspresi yang dijamin undang-undang dasar.

Oleh karena itu, Haru mengatakan pihaknya menyayangkan keributan yang terjadi pascapasangan Asyik menyampaikan kata-kata itu. Menurutnya, jika semua pihak yang hadir mengedepankan semangat demokrasi, maka keributan tidak akan terjadi.

"Kami menyayangkan tindakan kasar yang dilakukan oleh oknum pendukung pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat lain yang bertindak mengedepankan emosi dan mengabaikan semangat demokrasi," ujarnya, Selasa (15/5).

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA