Jumat, 10 Ramadhan 1439 / 25 Mei 2018

Jumat, 10 Ramadhan 1439 / 25 Mei 2018

Ridwan Kamil Kecewa Kericuhan Terjadi di Debat Pilgub Jabar

Rabu 16 Mei 2018 09:24 WIB

Rep: Rizky suryarandika, Dian Erika N, Arie Lukihardianti/ Red: Andri Saubani

Pasangan calon gubernur dan wagub Jawa Barat nomor urut satu Ridwan Kamil (kiri)-Uu Ruzhanul Ulum (kanan) menyampaikan visi dan misinya pada Debat Publik Putaran Kedua Pillgub Jabar 2018 di Balairung Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Senin (14/5).

Pasangan calon gubernur dan wagub Jawa Barat nomor urut satu Ridwan Kamil (kiri)-Uu Ruzhanul Ulum (kanan) menyampaikan visi dan misinya pada Debat Publik Putaran Kedua Pillgub Jabar 2018 di Balairung Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Senin (14/5).

Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Debat publik ketiga Pilgub Jabar pada Senin (14/5), digelar di Depok.

REPUBLIKA.CO.ID, GARUT -- Calon gubernur Jawa Barat (cagub Jabar) Ridwan Kamil mengaku kecewa dengan insiden kericuhan ketika debat kandidat yang dipicu pernyataan pasangan nomor urut 3 Sudrajat-Ahmad Syaikhu mengenai semboyan "2019 Ganti Presiden". Menurutnya, tindakan yang dilakukan pasangan Asyik semestinya tak perlu dilakukan hingga memicu emosi dari kubu lainnya.

"Saya menyesalkan, harusnya pilkada ini damai, inspiratif dan kreatif," kata Ridwan Kamil ketika mengunjungi Kabupaten Garut, Selasa (15/5).

Ia menyampaikan setelah pernyataan dan aksi membentangkan baju '2019 Ganti Presiden' itu memunculkan kekecewaan masyarakat yang datang dalam acara debat tersebut. Hanya saja, ia menyerahkan penyelesaiannya ke Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu).

"Kericuhan di nomor 3 saya serahkan ke Bawaslu," ujarnya.

Ridwan Kamil berharap, insiden serupa tak terulang guna menjaga damainya Pilkada Jabar. Ia menyarankan, agar penyelenggara pilkada baik KPU dan Bawaslu memperketat aturan agar tidak kecolongan.

"Memastikan ada aturan lebih ketat jangan ada dadakan yang menimbulkan multitafsir, jangan sampai KPU dipermalukan," ucapnya.

Sebelumnya, debat publik cagub Jabar di Balairung Kampus Universitas Indonesia (UI), Depok, Senin malam, sempat diwarnai kericuhan. Kericuhan yang berasal dari para pendukung terjadi setelah pernyataan penutup pasangan calon gubernur Sudrajat dan Syaikhu (Asyik) yang diusung Gerindra-PKS.

Saat itu Sudrajat sampai pada ujung pernyataannya dan Syaikhu tiba-tiba mengeluarkan kaus bertuliskan 2018 Asyik Menang, 2019 ganti presiden. "Kalau Asyik menang, insya Allah 2019 kita akan ganti presiden," kata Sudrajat.

Aksi pasangan itu ternyata memancing emosi pendukung pasangan Hasanudin-Anton Charliyan (Hasanah) yang diusung PDIP. Suasana tiba-tiba ricuh dari area kursi pendukung.

Para pendukung pasangan Hasanah tampak meluapkan emosinya. Padahal ketika itu pasangan nomor 4, yakni Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi, belum menyampaikan clossing statement-nya.

Berkali-kali pemandu acara peminta para pendukung untuk tenang, tetapi tidak berhasil. Teriakan-teriakan masih terus terdengar.

"Mohon tenang, mohon tenang, tidak akan selesai acaranya kalau Anda tidak tenang," pinta pemandu acara, Alvito Deanova.

Namun, suasana terasa makin tidak terkendali dan makin panas. Istri Deddy Mizwar tampak ketakutan sehingga dia lari ke arah panggung menghampiri suaminya.

Tiga pasangan cagub-cawagub pun tampak berusaha menenangkan pendukung supaya tenang. Namun, pasangan Asyik tampak tetap duduk di kursinya.

Ketua Tim Pemenangan Paslon Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik), Haru Shuandaru angkat bicara terkait kericuhan dalam debat publik Pilkada Jawa Barat di Universitas Indonesia, Depok, pada Senin (14/5) malam. Haru menegaskan, kata-kata 2019 Ganti Presiden yang disampaikan Paslon Asyik di akhir debat merupakan hak berekspresi yang dijamin undang-undang dasar.

Oleh karena itu, Haru mengatakan pihaknya menyayangkan keributan yang terjadi pascapasangan Asyik menyampaikan kata-kata itu. Menurutnya, jika semua pihak yang hadir mengedepankan semangat demokrasi, maka keributan tidak akan terjadi.

"Kami menyayangkan tindakan kasar yang dilakukan oleh oknum pendukung pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat lain yang bertindak mengedepankan emosi dan mengabaikan semangat demokrasi," ujarnya, Selasa (15/5).

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA