Ahad , 12 March 2017, 16:36 WIB

Wasekjen Gerindra: Kader PKS yang Urus Jenazah Nenek Hindun

Red: Muhammad Hafil
amri amrullah
Neneng (46) putri bungsu almarhum nenek Hindun (78), warga Kelurahan Karet, Kecamatan Setiabudi, Jaksel.
Neneng (46) putri bungsu almarhum nenek Hindun (78), warga Kelurahan Karet, Kecamatan Setiabudi, Jaksel.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kubu Tim Sukses pasangan calon gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan-Sandiaga Uno, meminta isu penolakan pengurusan jenazah Nenek Hindun, diluruskan. Sebab, dalam kenyataannya, yang mengurusi jenazah Nenek Hindun adalah kader-kader PKS yang merupakan pendukung Anies-Sandi.

"Perlu diluruskan agar mendapat pemahaman yang utuh," kata anggota tim sukses Anies-Sandi, Andre Rosiade saat dihubungi Republika.co.id, Ahad (12/3).

Menurut wakil sekretaris jenderal DPP Partai Gerindra itu,  selain kader-kader PKS yang memandikan dan menshalatkan jenazah, yang mengantarkan jenazah Nenek Hindun ke pemakaman adalah ambulans dari tim sukses Anies-Sandi. Sementara, mobil ambulans dari Golkar dan PDIP yang merupakan partai pengusung Basuki Tjahaja Purnama - Djarot Saiful Hidayat saat dihubungi warga sedang penuh atau tidak ada. 

"Sekali lagi kami menghimbau umat Islam tetap tenang, tetap melaksanakan syariat. Kalau ada saudara seiman kita yang meninggal kita tentu harus tetap membantu proses pemakamannya. Dari memandikan, mengkafani, mensholatkan sampai mengantar ke kuburan," kata Andre. 

Secara umum, Andre meminta  umat Islam tetap bersatu dan membantu sesama saudara.  Andre menekankan, beda pilihan dalam demokrasi adalah hal yang biasa.

Meski dalam Islam ada aturan yang menyatakan memilih pemimpin non-Muslim itu dilarang, namun selayaknya aturan itu tidak merusak tenun kebangsaan dan kebinekaan. 

"Jangan sampai umat Islam terkotak-kotak dengan pilihan. Berbeda pilihan itu adalah bagian dari demokrasi, mari kita tunjukkan bahwa Islam itu rahmatan lil 'alamin," jelas Andre. 

Sebelumnya, berkembangnya berita terkait nenek Hindun (78 tahun) warga RT 09/RW 05 Karet, Setiabudi yang disebut ditolak disholatkan di musala karena berbeda pilihan politik di Pilkada DKI, meresahkan warga dan Ketua RW setempat.

Ketua RW 05, Kelurahan Karet, Kecamatan Setiabudi, Ishak mengatakan apa yang disampaikan di media bahwa jenazah almarhum tidak disholatkan atau ditolak warga itu tidak benar. Kesalahan informasi tersebut, menurutnya, karena informasi yang sepotong-sepotong didapatkan wartawan, beberapa hari setelah jenazah almarhumah dimakamkan. 

Padahal, kata dia, tidak lama setelah almarhum meninggal pada hari Selasa (7/3), saat itu juga pengurus Musala Almukminun membantu proses pemandian dan pengafanan.

Terkait jenazah yang tidak disholatkan di musala yang sempat dipersoalkan keluarga korban, Ketua RW menyampaikan ini bukan karena penolakan terkait pilihan politik. Akan tetapi waktu yang saat itu memang sudah sangat singkat jelang petang hari.

"Sedangkan keluarga almarhumah meminta agar jenazah dimakamkan hari itu juga," ujarnya.