Jumat, 6 Safar 1436 / 28 November 2014
find us on : 
  Login |  Register

Jeruk Tanah Karo Diserang Lalat, Petani Merugi

Selasa, 03 Juli 2012, 19:36 WIB
Komentar : 0
Antara
Jeruk
Jeruk

REPUBLIKA.CO.ID, MEDAN -- Sekitar 200 petani jeruk di Brastagi, Kabupaten Tanah Karo, Sumatra Utara (Sumut) menderita kerugian akibat tanaman jeruknya diserang lalat buah. Mereka adalah petani yang menjadi mitra binaan PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV). Akibat kerugian itu, kredit program kemitraan senilai Rp 3 milyar yang disalurkan PTPN IV, terancam macet.

Staf urusan Humas PTPN IV, Syahrul Aman Siregar, mengatakan kondisi yang memprihatinkan itu kini menghantui sebagian besar petani jeruk di sana. "Kalau ini ini tidak cepat ditanggulangi, Kepopuleran Tanah Karo sebagai penghasil jeruk di Sumut akan segera hilang," katanya di Medan, Selasa (3/7).

Menurut Syahrul, sedikitnya 100 hektar budidaya jeruk di sana kini dibiarkan membusuk. Pasalnya, produksi jeruk yang dihasilkan sangat tidak berkualitas. Selain ukuran buahnya kecil-kecil, warna kulitnya juga kurang menarik. "Rasanya juga pahit. Pokoknya tidak lagi menarik untuk dijual di pasaran," paparnya.

Dengan kondisi seperti itu, menurut Syahrul, jeruk Tanah Karo yang juga dikenal sebagai jeruk Brastagi, tidak bisa bersaing di pasaran, apalagi bersaing dengan jeruk impor, yang kualitas rasa dan penampilannya jauh lebih menarik. Ini membuat jeruk produksi Tanah Karo yang sebelumnya menjadi handalan binaan PTPN IV menjadi semakin tersisih.

Akibat lebih jauh, kredit mitra binaan yang disalurkan pun terancam menjadi kredit macet. Setidaknya sekitar Rp 3 milyar kredit maitra binaan itu telah dsalurkan kepada sekitar 150 petani di sana. "Kalau ini tidak jadi perhatian pemerintah, program kemitraan ini bisa akan ditinjau ulang untuk masa mendatang."

Menurut salah seorang petani, amas Ginting, untuk mengatasi serangan hama lalat buah tersebut, membutuhkan biaya besar. Antara lain dengan membuat jaring pengaman mengelilingi kebun setinggi 6 m dan perangkap berupa lem yang digantung di setiap pohon jeruk. Dia mengatakan, kerugian petani bisa mencapai Rp 100 juta per hektare lahan jeruk.

Reporter : Nian Poloan
Redaktur : Dewi Mardiani
Mimpi yang paling benar ialah (yang terjadi) menjelang waktu sahur (sebelum fajar)((HR. Al Hakim dan Tirmidzi))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Kewajiban Muslim Penuhi Hak-Hak Binatang
JAKARTA -- Ketua Pemuliaan Lingkungan Hidup & SDA Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr. H. Hayu Prabowo menuturkan sudah menjadi kewajiban seorang Muslim untuk...