Kamis, 4 Syawwal 1435 / 31 Juli 2014
find us on : 
  Login |  Register

Kejar Target, Bulog Indramayu Jemput Bola

Minggu, 01 April 2012, 04:07 WIB
Komentar : 0
Antara/Arief Priyono
Stok beras miskin (raskin) di salah satu gudang BUlog.
Stok beras miskin (raskin) di salah satu gudang BUlog.

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU -- Bulog Sub Divre Indramayu terus berupaya melakukan penyerapan beras sesuai target prognosa 2012. Selain menunggu pasokan dari para mitra, Bulog pun melakukan sistem jemput bola agar target yang telah ditetapkan segera terpenuhi.

‘’Kami secara intensif turun ke lapangan untuk jemput bola,’’ ujar Kepala Bulog Sub Divre Indramayu, Sudarsono, kepada Republika, Sabtu (31/3).

Sudarsono mengatakan, jemput bola dilakukan oleh petugas satgas maupun unit pengolahan gabah beras (UPGB) Bulog. Selain ke tempat-tempat penggilingan beras, jemput bola juga dilakukan ke kelompok-kelompok tani. Menurut Sudarsono, dengan sistem jemput bola, maka penyerapan beras diharapkan akan lebih optimal. Dengan demikian, target sepanjang 2012 dapat terpenuhi.

Sudarsono menyebutkan, target prognosa Bulog Sub Divre Indramayu pada 2012 sekitar 130.000 ton setara beras. Dari jumlah tersebut, realisasi penyerapan sepanjang Maret 2012 baru sebanyak 13.500 ton setara beras. Meski belum optimal, namun Sudarsono menyatakan bahwa realisasi itu sudah cukup bagus. Pasalnya, jika dibandingkan dengan Maret 2011, realisasi penyerapan kala itu hanya 7.000 ton setara beras.

‘’Untuk penyerapan beras, salah satu kendalanya sekarang ini adalah faktor cuaca,’’ kata Sudarsono.

Sudarsono menjelaskan, pada Maret 2012, hujan masih sering turun. Akibatnya, gabah yang dihasilkan petani memiliki kandungan air yang tinggi dan berkualitas kurang baik. Padahal, tidak semua pabrik penggilingan beras memiliki mesin pengering (dryer). ‘’Waktu yang dibutuhkan petani untuk menjemur gabahnya menjadi lebih lama,’’ tutur Sudarsono.

Selain itu, tambah Sudarsono, kendala lain yang dihadapi yakni belum semua daerah mengalami panen. Sepanjang Maret 2012, panen di wilayah Kabupaten Indramayu baru sekitar 30 persen.

Akibat belum meratanya panen, terang Sudarsono, harga gabah saat ini juga masih tinggi. Dia menyebutkan, harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani masih ada yang mencapai Rp 3.700 per kg – Rp 3.800 per kg.

Padahal, berdasarkan Inpres No 3 Tahun 2012, harga pembelian pemerintah (HPP) GKP mencapai Rp 3.300 per kg di tingkat petani dan Rp 3.350 per kg di tingkat penggilingan. Karenanya, banyak petani yang memilih menjual gabahnya kepada tengkulak.

‘’Pada April dan Mei nanti, kami berharap penyerapan akan lebih maksimal,’’ tegas Sudarsono.

Reporter : Lilis Sri Handayani
Redaktur : Hazliansyah
Apabila Allah memberikan kenikmatan kepada seseorang hendaknya dia pergunakan pertama kali untuk dirinya dan keluarganya.((HR. Muslim))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar