Selasa, 7 Ramadhan 1439 / 22 Mei 2018

Selasa, 7 Ramadhan 1439 / 22 Mei 2018

Asia Times: Jokowi-JK Bakal Lanjut di Pilpres 2019

Senin 12 Februari 2018 21:03 WIB

Rep: Febrianto Adi Saputro, Fauziah Mursid/ Red: Elba Damhuri

Pembangunan di era Jokowi-JK

Pembangunan di era Jokowi-JK

Foto: Grafis: Mardiah
John Mcbeth menilai daya tawar JK jauh lebih tinggi dibandingkan cawapres lainnya.

REPUBLIKA.CO.ID, John Mcbeth, jurnalis senior Asia Times, kembali membuat analisis menarik seputar Pilpres 2019. Dalam tulisannya berjudul "Widodo steams towards easy second term" ("Jokowi Menuju Kursi Presiden Kedua Kalinya") di Atimes.com pada 7 Februari 2018, McBeth menulis tentang kemungkinan kembalinya duet Joko Widodo-Jusuf Kalla pada Pilpres 2019.

Sumber McBeth dari internal tim Jokowi menyatakan JK merupakan pilihan yang paling aman bagi Jokowi untuk maju. Dibanding calon-calon lain dari kalangan Muslim, JK memiliki banyak kelebihan yang bisa mengambil dan mempengaruhi suara-suara Muslim yang ini menjadi titik lemah Jokowi.

Kekalahan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pada Pilgub 2017 menjadi pelajaran berharga kubu Jokowi dalam menyiapkan medan tempur pada Pilpres 2019. Anies Baswedan, lawan Ahok pada Pilgub 2017, sejak awal tidak diunggulkan memenangkan perebutan DKI 1, namun dengan gerakan masif isu keislaman, Anies pun menang.

McBeth menulis, JK adalah Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang memiliki pengaruh luas dan kuat di kalangan umat Islam. Menurut McBeth, Jokowi saat ini memiliki kesulitan mendapatkan calon wakil presiden yang bisa diterima di kalangan Muslim konservatif yang jumlah suaranya sangat signifikan.

JK di mata Jokowi dianggap sosok yang paling berjasa dalam membawa Partai Golkar mendukung pemerintahan mereka. Sejak awal kampanye Pilpres 2014, Golkar dengan Ketua Umumnya Aburizal Bakrie merupakan pendukung kuat Prabowo. Bahkan di awal Pemerintahan Jokowi, sikap oposisi Golkar tampak kuat.

Sumber dari kalangan dekat JK menyatakan JK sudah mengetahui keinginan itu namun JK mengaku sudah lelah dan ingin pensiun dari ingar-bingar politik nasional. Namun demikian, meski JK tetap maju maka dia mengisyaratkan tidak akan penuh selama lima tahun menjadi wapres. JK hanya ingin separoh jalan menjadi wapres yakni hingga 2022.

Dari survei SMRC beberapa waktu lalu, nama JK masih berkibar sebagai kandidat wapres paling tinggi. JK berada di atas Agus Harimurti Yudhoyono, putra mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang juga Ketua Umum Partai Demokrat. Agus dikatakan McBeth memiliki peluang besar digandeng Jokowi jika suara kalangan muda jauh lebih penting dan besar dibandingkan suara dari Muslim konservatif.

SMRC mensurvei calon presiden yang memiliki peluang tertinggi memenangkan Pilpres 2019. Nama Jokowi berada di posisi teratas dengan persentase melebar jauh dari pesaing terberatnya, Prabowo Subianto. Pada suervei SMRC terakhir, sebanyak 38,9 persen pemilih akan memilih Jokowi sebagai presiden jika pilpres digelar hari itu. Sementara Prabowo meraih 10,5 persen.

Untuk generasi milenial, lembaga survei LSI menyatakan ada 45 persen suara terdaftar yang dari jumlah itu sekitar 38,4 persen memilih Jokowi dan 24,6 persen Prabowo. Ada jarak tipis antara perolehan suara Jokowi dan Prabowo di kalangan generasi milenial.

Sebelumnya, John Mcbeth menulis kritikan pedas terhadap Pemerintahan Jokowi berjudul "Widodo's Smoke and Mirrors Hide Hard Truths". Menurut dia, keberhasilan Pemerintahan Jokowi dalam bidang infrastruktur hanya merupakan pencitraan belaka namun faktanya tidak demikian.

 

JK masih layak jadi wapres

Menanggapi isu kembalinya Jokowi-JK, politisi senior Partai Golkar Fahmi Idris menilai Jusuf Kalla masih valid untuk mendampingi Jokowi pada Pilpres 2019.

"Secara politik valid dari berbagai aspek. Cuma itu tergantung pada kesediaan kedua belah pihak ya, terutama Pak JK. Masih mau tidak melanjutkan sebagai wapres, lalu apakah Pak Jokowi betul akan memilih Pak JK," ujar Fahmi, Senin (12/2).

Kebersamaan antara JK dan Jokowi dalam kepemimpinan pemerintahan Kabinet Kerja ini juga berjalan baik. Anggota Dewan Pembina Partai Golkar ini menilai kapasitas JK dapat diandalkan dalam penguasaan di bidang ekonomi. Walaupun, kata dia, ada perbedaan antara JK dan Jokowi, namun itu wajar dalam kemitraan.

Fahmi merasa yakin keduanya akan meraih suara dari para pemilih jika kembali bersama mencalonkan diri. Meskipun tentunya, pasti ada perkembangan dan perubahan dari periode lalu dan periode 2019 mendatang. Ia menyebut makin banyaknya generasi milenial yang memiliki hak suara pada Pilpres 2019.

Mantan tim sukses Jokowi-JK pada pemilu 2014 lalu, Eva Kusuma Sundari, berpendapat peluang majunya kembali JK mendampingi Jokowi bisa saja terjadi. Dalam politik, kata Eva, segalanya mungkin, asal ada kesamaan kepentingan.

Eva menilai, adalah hal yang wajar jika peluang JK menjadi pendamping Jokowi di pilpres 2019 lebih besar dibanding orang lain. Pasalnya, keduanya saat ini sedang memimpin dan menjabat dengan berbagai keberhasilannya. "Tetapi ini hitungan di atas kertas saat ini. Yang paling valid adalah menjelang pilpres," katanya.

Anggota Komisi XI DPR ini menyatakan, baik Jokowi dan JK tidak perlu diganggu dengan isu pilpres. Menurutnya, yang paling penting adalah bagaimana Jokowi dan JK menyelesaikan Nawacita, khususnya menggenjot pertumbuhan ekonomi. Menggenjot pertumbuhan ekonomi ini adalah kampanye yang paling jitu untuk meningkatkan peluang mereka berdua di periode berikut, baik bersama maupun terpisah.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA