Sabtu , 07 April 2012, 10:51 WIB

Penyakit Misterius, Bulu Beruang Kutub Alaska Rontok

Red: Ajeng Ritzki Pitakasari
USGS
Beruang Kutub Alaska
Beruang Kutub Alaska

REPUBLIKA.CO.ID, ANCHORAGE - Gejala penyakit misterius yang telah menewaskan sejumlah singa laut di lepas pantai Alaska dan menyerang anjing laut sekarang muncul pada beruang kutub, kata US Geological Survey (USGS), Jumat (6/4).

Sembilan beruang kutub dari wilayah Laut Beufort di dekat Barrow dijumpai telah kehilangan separuh bulu dan luka lengket di kulit mereka. Kondisi itu serupa yang ditemukan pada anjing laut dan singa laut yang sakit, kata lembaga tersebut dalam satu pernyataan.

Tak seperti anjing laut dan singa laut yang sakit, maka beruang kutub yang terpengaruh tampak sehat, kata Tony DeGange, Kepala Kantor Biologi bagi Pusat Kajian Sains Alaska USGS. Belum ada beruang kutub yang mati, katanya.

Semua sembilan beruang yang terinfeksi termasuk di antara 33 beruang kutub yang telah ditangkap oleh para ahli biologi dan dijadikan contoh sewaktu mereka melakukan studi rutin di garis pantai Arctic, kata DeGange.

Kehilangan sebagian bulu telah disaksikan sebelumnya pada beruang kutub, tapi prevalensi tinggi pada beruang yang dilihat oleh para peneliti. Masalah serentak pada populasi anjing laut dan singa laut  itu meningkatkan keprihatinan, katanya.

USGS bekerja sama dengan berbagai lembaga dalam mempelajari hewan lain untuk menyelidiki apakah ada kaitan, kata DeGange sebagaimana dikutip Reuters . "Banyak yang belum kami ketahui, apakah kami sedang menghadapi sesuatu yang berbeda atau sesuatu yang sama," katanya.

Wabah penyakit tersebut pertama kali ditemukan pada musim panas lalu. Sebanyak 60 singa laut ditemukan mati dan sebanyak 75 sakit, kata Nasional Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). Kebanyakan singa laut yang sakit adalah ringed seal, tapi anjing laut ribbon yang sakit juga ditemukan.

Beberapa anjing laut di bagian barat-laut Alaska didapati terserang penyakit itu, dan sebagian juga mati, kata US Fish and Wildlife Service. Anjing laut dan singa laut yang sakit, banyak di antaranya masih muda, mengalami kesulitan bernafas dan lesu serta luka berdarah, kata para ahli.

Berbagai lembaga melakukan penyelidikan mengenai penyakit penyakit tersebut, yang juga telah muncul di daerah perbatasan Kanada dan Rusia. Kajian awal memperlihatkan keracunan radiasi bukan penyebabnya, dan kajian itu untuk sementara mengesampingkan teori bahwa hewan tersebut sakit akibat pencemaran dari pembangkit listrik yang diterjang tsunami di Fukushima, Jepang.

Penyebaran penyakit di kalangan singa laut tersebut berlanjut. Anak anjing laut yang sakit dan hampir botak ditemukan sekitar satu bulan sebelumnya di dekat Yakutat di gatis pantai Teluk Alaska, kata lembaga itu.

Sumber : Antara