Rabu, 22 Zulqaidah 1435 / 17 September 2014
find us on : 
  Login |  Register

Mencegat Tomcat

Minggu, 01 April 2012, 22:25 WIB
Komentar : 1
kaskus
Serangga 'Tomcat'
Serangga 'Tomcat'

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh: Riski Maruto/Antara


Tomcat bukanlah nama orang atau nama kucing. Tomcat nama serangga yang saat ini sedang "naik daun" karena bisa melukai kulit manusia dengan racunnya sehingga bagian yang terserang akan gatal kemudian melepuh.

Nadine dan Atjo adalah dua warga Kota Palu, Sulawesi Tengah, yang pertama kali terserang ganasnya racun tomcat (paederus littoralis).

Serangga yang juga disebut kumbang rove ini sebelumnya banyak menyerang warga di Surabaya dan sekitarnya. Bahkan saat ini, sejumlah warga di Pulau Jawa lainnya dilaporkan juga telah terkena racun tomcat.

Nadine yang berusia kurang dari dua tahun mengalami luka melepuh dan berair di bagian punggung seperti orang yang terkena sengat racun tomcat, sementara Atjo juga mengalami luka serupa di bagian tubuhnya.

Kedua korban itu bertetangga dan tinggal di kompleks perumahan Cipta Pesona Indah I yang di lokasi itu juga terdapat rumah Wali Kota Palu, Rusdy Mastura.

Adanya dua korban tomcat itu tentu saja membuat warga Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah ini heboh. Sejumlah warga khawatir terkena racun tomcat, sebagian lainnya mengantisipasinya dengan membersihkan pekarangan rumah.

Warga memotong ilalang dan membakar rumput kering yang mungkin bisa disinggahi tomcat. Warga juga mendesak pemerintah setempat untuk mengantisipasi penyebaran tomcat.

Isni, warga Palu Timur, berharap pemerintah kota setempat cepat bertindak agar tomcat tidak menyebar ke sejumlah daerah. Isni berharap Dinas Kesehatan atau Dinas Pertanian Kota Palu melokalisir daerah yang terdapat sejumlah serangga tomcat.

Meski tomcat tidak berbahaya bagi manusia, Isni khawatir racun serangga itu akan mengenai anak-anak yang tidak begitu bisa menahan rasa sakit.

"Kasihan anak-anak cuma bisa menangis saja," kata wanita yang sudah memiliki satu anak ini.

Ardiansyah, warga lainnya, berharap pemerintah melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang serangga tomcat.

"Katanya tomcat justru bermanfaat bagi petani, sehingga binatang itu tak perlu dibunuh tapi diusir saja. Pemberitahuan ini yang seharusnya dilakukan Pemkot Palu," katanya.

Dinas Pertanian, Kehutanan dan Kelautan Kota Palu saat ini telah meneliti sejumlah serangga yang diduga tomcat yang baru-baru ini ditemukan warga.

Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan dan Kelautan Kota Palu Mukhlis Umar mengatakan pihaknya masih meneliti di laboratorium apakah sejumlah serangga itu benar-benar tomcat.

"Kalau memang tomcat maka petugas akan mengantisiasi penyebarannya dengan menyemprotkan pestisida di lokasi penemuannya," kata Mukhlis.

Dia mengatakan tomcat biasanya mudah ditemukan di daerah yang banyak terdapat sawah karena serangga itu memangsa hama wereng cokelat.

Sementara tomcat yang ditemukan warga Palu berada di lokasi perumahan warga yang jauh dari areal persawahan. "Olehnya, kami melakukan penelitian, apakah itu memang tomcat atau serangga jenis lain," kata Mukhlis.

Tidak Berbahaya Lebih lanjut Mukhlis mengimbau warga untuk tidak terlalu khawatir tentang adanya serangga tomcat.

"Kalau menjumpai tomcat jangan dipegang, cukup mengusir dengan meniupnya," katanya.

Dia menuturkan tomcat akan mengeluarkan racun dari tubuhnya jika merasa terancam atau disentuh. Jika racun itu mengenai tubuh maka akan terasa gatal, perih, panas dan selanjutnya melepuh.

Namun demikian, katanya, racun tomcat itu tidak terlalu berbahaya bagi manusia. "Cukup cuci dengan air sabun jika terkena racun tomcat untuk mengurangi dampak awal racun tomcat. Jika masih terasa segera berobat ke Puskesmas," sambung Mukhlis.

Dia mengatakan, kumbang tomcat bukanlah binatang yang berasal dari daerah tertentu. Kalau di suatu daerah terdapat areal persawahan maka kemungkinan besar di sekitar daerah itu terdapat tomcat.

"Jadi tomcat bukanlah binatang yang hanya terdapat di Jawa yang kemudian menyebarang ke pulau lain," ujar Mukhlis.

Menurut dia, masuknya serangga tomcat ke pemukiman warga itu karena berkurangnya tanaman sebagai tempat hidupnya. Pemukiman warga dianggap menjadi tempat hidup yang baru.

Apalagi tomcat juga menyukai cahaya terang, seperti yang terdapat di rumah-rumah warga, kata Mukhlis.

Telah mulainya musim panen raya padi di sekitar Kota Palu diduga juga menjadi pemicu ditemukannya tomcat di rumah warga.

Hingga saat ini belum ada laporan ditemukannya lagi kumbang tomcat di rumah-rumah warga di Kota Palu.

Mukhlis mengimbau warga yang menemukan tomcat untuk tidak membunuhnya, cukup diusir saja agar kembali ke habitatnya. Tomcat masih dibutuhkan petani untuk memangsa hama padi atau organisme pengganggu tanaman lainnya.

Warga Palu berharap tomcat tidak meluas ke pemukiman warga, cukup dua orang saja yang menjadi korban. Menjaga kebersihan lingkungan dan kesehatan bisa adalah salah satu cara untuk mencegat kehadiran tomcat di rumah-rumah warga.

Redaktur : Heri Ruslan
Sesungguhnya Allah SWT mengampuni beberapa kesalahan umatku yang disebabkan karena keliru, karena lupa, dan karena dipaksa (HR Ibnu Majah, Baihaqi, dan lain-lain)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Atasi Masalah Grafiti, ini Cara Kreatif Washington DC
WASHINGTON --  Kota besar seperti ibukota Amerika Serikat, Washington DC, juga menghadapi masalah graffiti karena semakin banyaknya dinding gedung dan tempat umum yang...