Wednesday, 5 Jumadil Akhir 1439 / 21 February 2018

Wednesday, 5 Jumadil Akhir 1439 / 21 February 2018

Tim Khofifah-Herman Kemukakan Kecurangan Pilkada Jatim

Rabu 04 September 2013 11:52 WIB

Red: Mansyur Faqih

Pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa-Herman S Sumawiredja ketika mengikuti Debat Cagub dan Cawagub Jatim 2013-2018 di Surabaya, Jatim, Senin (12/8) malam.

Pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa-Herman S Sumawiredja ketika mengikuti Debat Cagub dan Cawagub Jatim 2013-2018 di Surabaya, Jatim, Senin (12/8) malam.

Foto: Antara

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Tim khofifah indar parawangsa-Herman Suryadi Sumawiredja menemukan kecurangan Pilkada Jatim yang digelar 29 Agustus lalu. Bahkan kecurangan yang ditemukan lebih parah ketimbang pilkada Jatim 2008.

"Pelanggaran dan kecurangan Pilkada Jatim kali ini sangat beragam. Mulai dari keterlibatan aparat desa hingga petugas TPS yang turut mencoblos pasangan tertentu secara berjamaah," kata anggota koordinator tim media Khofifah-Herman, Ahmad Millah Hasan di Surabaya, Rabu (4/9).

Selain itu, tambahnya, tim juga menemukan kasus surat suara dicoblos sendiri oleh aparat desa dan undangan pencoblosan yang tak dibagikan ke pemilih.

"Marak juga penyalahgunaan kekuasaan untuk menggiring pemilih untuk mencoblos pasangan tertentu. Kalau pilkada Jatim 2008 hanya masalah DPT (daftar pemilih tetap) yang paling heboh. Sehingga Ketua KPU Jatim saat itu sempat menjadi tersangka atas dugaan itu," ucapnya.

Pilkada Jatim 2013 juga dianggap diwarnai kinerja KPU yang tak profesional. Sehingga jumlah golongan putih sangat besar karena KPU kurang melakukan sosialisasi.

"Itu dosa KPU. Angka golput sangat tinggi karena sosialisasi yang kurang. Satu suara saja bisa menentukan nasib Jawa Timur. KPU harus bertanggung jawab. Parahnya, Bawaslu justru kurang aktif mengawasi pelaksanaan Pilkada Jatim," ujarnya.

Ia pun menuntut adanya langkah hukum agar terang benderang. Siapa yang menang dengan cara curang dan siapa yang kalah karena dicurangi. "Ini untuk menyelamatkan demokrasi di Jatim," ucapnya.

Baginya, Jawa Timur adalah barometer politik nasional. Suksesnya penyelenggaraan pilkada Jatim akan sangat berpengaruh pada penyelenggaraan pemilu 2014. Ia malah menduga, kecurangan pilkada Jatim merupakan percobaan untuk pemilu mendatang.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES