Selasa, 7 Zulqaidah 1435 / 02 September 2014
find us on : 
  Login |  Register

Cagub Jatim Hanya Pion Tokoh Nasional

Jumat, 16 Agustus 2013, 21:10 WIB
Komentar : 1
Republika/Aditya Pradana Putra
Ketua Umum Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa.
Ketua Umum Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pilgub Jawa Timur (Jatim) semakin menarik untuk dicermati. Apalagi setelah pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman S Sumawiredja (Berkah) menjadi korban KPU Jatim. Fakta itu terkuak melalui sidang kode etik Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP).

Pengamat politik UI Boni Hargen mengatakan, pasangan Berkah yang didzalimi dengan tidak diloloskan menandakan ada kekuasaan besar yang mengintervensi KPU. "Proses pemilukada di Jatim ini dikuasai oleh kartel yang membatasi monopoli pasar," katanya di Jakarta, Jumat (16/8).

Kasus Pilgub Jatim, kata Boni, bukan hanya menjadi kartel politik saja. Tapi menjadi kejahatan dan serius. Kalau dibiarkan dapat merusak politik di Indonesia. Apalagi Jatim adalah wilayah terbesar dalam pemilihan politik di Indonesia. "Rebutan Jawa Timur adalah rebutan nasional sebenarnya. Khofifah dan Pakde Karwo itu sebenarnya hanya pion dari tokoh-tokoh politik nasional," katanya.

Direktur Sosial Politik The Jakarta Institute La Ode Ahmadi menyoroti netralitas KPU Jatim yang harus mutlak dijaga demi kualitas pemilukada. Penyelenggara pemilu jangan sampai menjadi alat penguasa atau partai politik tertentu. Dengan berfungsi tanpa bias tentu bisa kredibilitas lembaga yang berwenang. 

"Terjadi keberpihakan KPU Jatim dalam penyelenggaraan Pilgub Jatim. Penyelenggara pemilukada harus netral menjaga kualitas pemilukada itu sendiri," sarannya.

Reporter : Erik Purnama Putra
Redaktur : Mansyur Faqih
Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya(HR. Muslim, no. 2588)
FOTO TERKAIT:
VIDEO TERKAIT:
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

Berita Lainnya

Warga Muhammadiyah Belum Tentu Pilih Karsa