Sabtu, 11 Jumadil Awwal 1434 / 23 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Counter Down Lalu Lintas Yogya Banyak yang Mati

Jumat, 08 Februari 2013, 08:05 WIB
Komentar : 0
ist
Counter down lalu lintas/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA -- Penghitung waktu mundur atau counter down yang menempel di alat pengatur lalulintas (APIL) di Kota Yogyakarta banyak yang mati. Alat tersebut selama ini dijadikan patokan pengguna jalan mematikan mesin kendaraan menunggu lampu hijau.

Beberapa simpang jalan yang alatnya mati antara lain di Perempatan Wirosaban, Tamansiswa, Jetis dan beberapa persimpangan lainnya.  Kepala Seksi Rekayasa Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta, Windarto mengakui, sedikitnya ada 10 simpang yang alat penghitung waktu mundurnya mati. "Itu memang sengaja kita turunkan (copot) untuk diperbaiki dan stel ulang pengatur waktunya," ujarnya.

Menurutnya, perbaikan counter down tersebut dilakukan untuk memperlancar arus lalulintas di Yogya. Pihaknya mengubah alat penghitung mundur itu menjadi matrik. "Selama ini hanya angka yang terlihat dilayar, ke depan dengan sistem matrik akan ada tulisan bergerak untuk himbauan," tambahnya.

Saat ini lima simpang counter down di Yogya yang sudah menggunakan matrik. Persimpangan itu adalah Gondomanan, Pingit, Kantor Pos, Menukan dan Gejayan.

Diakuinya, saat ini total alat penghitung waktu mundur di Yogya mencapai  232 unit. Durasi angka yang ditampilkan bervariasi sesuai tingkat kapasitas persimpangan jalan. Pada persimpangan dengan kapasitas rendah rata-rata mencapai 20 detik, sedangkan pada kapasitas padat bisa mencapai 100 detik.

Reporter : Yulianingsih
Redaktur : M Irwan Ariefyanto
654 reads
Demi Allah, kami tidak akan mengangkat seorang pun yang meminta sebagai pemimpin atas tugas ini dan tidak juga seorang yang berambisi memperolehnya.(HR Muslim )
FOTO TERKAIT:
VIDEO TERKAIT:
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda