Jumat, 28 Ramadhan 1435 / 25 Juli 2014
find us on : 
  Login |  Register

Pekerja Outsourcing PLN Ancam Mogok Kerja

Selasa, 19 Juni 2012, 23:23 WIB
Komentar : 2
Antara
Petugas PLN. Ilustrasi.
Petugas PLN. Ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Para pekerja outsourcing PLN Jateng mengancam mogok kerja secara massal. Mereka menuntut perusahaan listrik tersebut mengangkat mereka menjadi karyawan tetap. Aksi mogok belasan ribu pekerja PLN itu akan dilakukan jika hingga akhir Juni tuntutan mereka tidak dipenuhi.

Para pekerja beranggapan tidak mendapat kesejahteraan selama menjadi pekerja outsourching.

"Sistem kerja outsourcing yang diterapkan perusahaan menyebabkan kami para pekerja tak mendapat kesejahteraan. Kami juga harus menanggung sendiri biaya kesehatan diri dan keluarga. Sistem kerja outsourcing tidak menjamin jenjang karir kami. Sistem ini sangat merugikan kami para pekerja yang sama-sama memiliki peran esensial di perusahaan. Oleh karenanya, kami meminta agar Presiden menghapus sistem outsourcing ini," ujar Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Serikat Pekerja (SP) PT PLN Jawa Tengah, M Soefaat Sutarso.

Soefaat juga mengatakan, sebelum dipekerjakan oleh vendor, beberapa pekerja masuk sebagai koperasi karyawan PLN. Namun sejak beberapa tahun lalu, manajemen pekerja dilepaskan dari PLN secara legalitas dan dipindah kepada vendor.

Selain itu, upah para pekerja outsourcing yang didapat dari vendor hanya bekisar Rp 900 ribu hingga Rp 1,3 juta setiap bulan. "Bayaran ini tentu sangat minim, jika dibanding dengan kebutuhan hidup yang setiap hari semakin meningkat," ujarnya.

Menurut Soefaat, lebih dari 13 ribu pekerja outsourching yang meminta pengangkatan berasal dari sektor operator gardu induk, operator pembangkit, tenaga administrasi teknik dan keuangan, pencatat meter dan sektor lain.




Reporter : Afriza Hanifa
Redaktur : Hazliansyah
Tahukah engkau apa yang menghancurkan Islam?” Ia (Ziyad) berkata, aku menjawab, “Tidak tahu.” Umar bin Khattab RA berkata, “Yang menghancurkan Islam adalah penyimpangan orang berilmu, bantahan orang munafik terhadap Alquran, dan hukum (keputusan) para pemimpin yang menyesatkan.”(Riwayat Ad-Darimi, dan berkata Syaikh Husain Asad: isnadnya shahih))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar