Senin , 20 Januari 2014, 12:39 WIB

Menteri LH: Banjir Akibat Kerusakan Ekologis

Red: Yudha Manggala P Putra
Antara/Zabur Karuru
Indonesian Minister of Environtment Balthasar Kambuaya (third from left) and his counterpart from Czech, Thomas Chalupa (right) survey Ciliwung River using a rubber boat on Wednesday. During his visit, Chalupa eyes cooperation in waste management with Indo
Indonesian Minister of Environtment Balthasar Kambuaya (third from left) and his counterpart from Czech, Thomas Chalupa (right) survey Ciliwung River using a rubber boat on Wednesday. During his visit, Chalupa eyes cooperation in waste management with Indo

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya berpendapat banjir yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia belakangan ini merupakan bencana yang dipicu faktor alam dan kerusakan ekologis.

"Banjir yang kita hadapi sekarang akibat kerusakan ekologis. Ekologi kita hancur total," kata Balthasar Kambuaya saat meninjau lokasi pembongkaran vila di Puncak, Bogor, Senin (20/1).

Mengenai banjir di ibu kota dan sekitarnya yang terjadi dalam sepekan terakhir, dikatakannya, merupakan pengaruh Monsoon Asia yang terkonsentrasi di wilayah Jakarta dan sebagian Jawa Barat dengan curah hujan cukup tinggi secara bersamaan mulai dari hulu Sungai Ciliwung hingga hilir yang disertai dengan pasang air laut.

Menurut Balthasar, jika dibandingkan banjir pada 2007 curah hujan saat ini tidak lebih dari 300 mm per hari, namun karena perubahan tata ruang yang meningkat pesat baik di kawasan hulu, tengah maupun hilir terutama untuk pemukiman.

Secara umum laju kerusakan ekologis atau degradasi lingkungan di Indonesia dari tahun ke tahun semakin memprihatinkan terlihat dari penurunan luas tutupan hutan di Indonesia dari 49,37 persen pada 2008 menjadi 47,73 persen pada 2012 atau mengalami degradasi sebesar 1,64 persen dalam waktu empat tahun.

Di Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung terjadi penurunan luas tutupan hutan dari 9,4 persen pada 2000 menjadi 2,3 persen pada 2010 atau mengalamii laju degradasi sebesar 7,14 persen dalam kurun waktu 10 tahun atau 0,7 persen per tahun.

Sumber : Antara