Kamis, 24 Jumadil Akhir 1435 / 24 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Angka Kematian Bayi dan Ibu di Jabar Meningkat

Rabu, 18 April 2012, 19:54 WIB
Komentar : 0
Blogspot.com
Ibu dan bayi (ilustrasi).
Ibu dan bayi (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG – Angka kematian ibu dan bayi di Jawa Barat hingga saat ini masih tertinggi di Indonesia. Bahkan, trennya meningkat.

Pada 2010, kasus kematian ibu di Jabar sebanyak 794 kasus dan bayi sekitar 4.987 kasus. Sementara, di 2011 meningkat menjadi angka kematian ibu sebanyak 837 kasus dan bayi 5.201 kasus.

''Jabar sudah berupaya setengah mati untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak tapi angkanya selalu besar,'' ujar Kepala Dinas Kesehatan Jabar, Alma Lucyati, kepada wartawan usai Peluncuran Program Expanding Maternal Neonatal Survival (EMAS) USAID, Selasa (18/4).

Alma menjelaskan, Jabar selalu menjadi penyumbang terbesar angka kematian ibu dan anak karena jumlah penduduknya besar dibandingkan daerah lain.

Padahal, kalau dilihat secara prosentase dengan daerah yang penduduknya sedikit, kasus di Jabar sebenarnya kecil. ''Memang perlu special treatment (penanganan khusus) untuk menekan angka kematian ibu dan anak di Jabar,'' kata Alma.

Oleh karena itu, lanjut dia, bantuan dari USAID EMAS berupa technical assistance, sangat diperlukan. Karena, tingginya angka kematian ibu dan anak itu terjadi jangan-jangan karena data yang belum akurat. Penyebab lainnya, budaya dan infrastruktur. ''Program yang diberikan EMAS ini benar-benar fokus ke penyebab kematian ibu dan anak,'' tegas Alma.

Menurut Wakil Gubernur Jabar, Dede Yusuf, sasaran yang ingin dicapai dalam pembangunan Millennium Development Goals adalah menurunnya angka kematian ibu dan anak. Pada 2015, angka kematian ibu dan anak diharapkan bisa mencapai 102/100 ribu angka kematian ibu dan 23/100 ribu angka kematian bayi.

Untuk mencapai target tersebut, kata dia, Jabar terus  meningkatkan layanan kesehatan. Tahun ini, Pemprov Jabar menganggarkan dana untuk kesehatan cukup besar di APBD,  yakni sebesar Rp 900 miliar. Sementara dari APBN, Pemprov Jabar memperoleh bantuan Rp 1 triliun. Jadi, total anggaran yang berputar untuk kesehatan sekitar Rp 2 triliun. Hampir sebagian besar dana tersebut kembali ke daerah kabupaten/kota.


Barangsiapa mengobati sedang dia tidak dikenal sebagai ahli pengobatan maka dia bertanggung jawab((HR. Ibnu Majah))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar
  Emas Kamis, 19 April 2012, 09:26
Mungkin sampai saat ini, Jika ada keluhan atau pengaduan atau usulan terkait pelayanan kesehatan, agar lebih baik, sebaiknya disampaikan ke SMS : 081281562620 Email : info@depkes.go.id, kontak@depkes.go.id
atau telp : 021-500567
  nunuk Rabu, 18 April 2012, 20:21
Yg perlu diperhatikan pelayanan bidan, ada progam melahirkan gratis di puskesmas, tapi bidannya judes..,ngeremehin ke orang tak mampu...akhirnya mereka pilih melahirkan ke dukun bayi lg...ini fakta dilapangan

  VIDEO TERBARU
MUI Harapkan PPP Islah
JAKARTA -- Internal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) alami perselisihan. Akan hal tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta PPP untuk segera melakukan Islah. "Pada forum...