Rabu , 30 June 2010, 09:30 WIB

Misteri di Balik Angka 40

Rep: Erdy Nasrul/ Red: Endro Yuwanto

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Angka 40 menyimpan beberapa hikmah. Bisa berupa peraturan, seperti shalat jumat jumlah jamaahnya harus 40 orang. Dan masih banyak lagi.

Saat mendoakan Ibu Hasri Ainun Habibie pasca 40 hari kematiannya, guru besar ilmu al-Qur’an, Quraish Shihab, mengatakan, 40 hari adalah waktu proses manusia diciptakan, sebagaimana ditegaskan didalam Al-Quran. Angka 40 juga menandakan puncak keemasan usia manusia. Kemudian dikabulkannya munajat seseorang juga bisa jadi 40 hari setelah dipanjatkan.

Quraish menyitir tulisan al-Ghazali dalam kitabnya 'al-Munqidh Mina ad-Dhalal', bahwa memang terdapat hikmah di balik angka-angka. Imam al-Ghazali mengakui memang setiap angka dalam ajaran agama-agama ada maknanya. Dia menganalogikan dokter yg memberi kadar-kadar dan bilangan-bilangan tertentu untuk menakar obat. “Tidak bisa sembarangan. Harus pas,” tuturnya, Selasa.

Sebelum al-Ghazali lahir, sudah ada sekumpulan ulama, Ikhwan as-Shafa, pada abad kesepuluh masehi membahas makna yang tersirat dibalik angka-angka. Misalkan kata Allah, terdiri dari empat huruf. Alif dan lam atau al menandakan tangisan bayi ketika lahir. Kemudian huruf 'ha' menandakan keluhan manusia menghadapi kematian. Dia mengatakan hal itu dijelaskan cendikiawan muslim asal Iran, Seyyed Hossein Nasr dalam bukunya 'Islamic Spirituality'.

Namun demikian, Quraish mengaku tidak mengetahui apa makna tersirat dibalik 40 hari kematian seseorang. Dia mengatakan bukan berarti setelah 40 hari orang-orang berhenti mendoakan seseorang yang telah tiada. “Doa harus tetap berlanjut,” ungkapnya mengenang kematian istri presiden ketiga Republik Indonesia di rumah duka, Kompleks Patra Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (29/6).

Bisa jadi, tambahnya, itu adalah pengalaman orang-orang terdahulu yang diwariskan. Dia mengatakan penjelasan mengenai angka-angka itu tidak bisa menggunakan rasio.

Quraish juga mengutip tulisan seorang ‘alim, Ibnu Sina, dalam bukunya 'al-Isyarat wa at-Tanbihat'. Ibnu Sina menulis jangan sampai seseorang mencemooh hal-hal irasional yang ada dalam tashawwuf. Kalau mencemooh, tambahnya, maka salahkan diri sendiri. “Ini persoalan spiritual,” tegas Quraish