Selasa , 01 August 2017, 22:20 WIB

Tim Sinkronisasi: Tanggul Pantai Harus Dilanjutkan

Rep: Mas Alamil Huda/ Red: Bilal Ramadhan
Antara/Indrianto Eko Suwarso
Foto udara pulau hasil reklamasi di Teluk Jakarta, Kamis (11/5).
Foto udara pulau hasil reklamasi di Teluk Jakarta, Kamis (11/5).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tim Sinkronisasi Anies-Sandi menemui Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro di kantor Bappenas, Selasa (1/8). Pertemuan itu menyepakati kelanjutan pembangunan tanggul pantai di utara Jakarta.

Anggota Tim Sinkronisasi Marco Kusumawijaya mengatakan, tanggul pantai merupakan bagian dari National Capital Integrated Coastal Development (NCICD). Tanggul ini dinilai mampu menahan banjir rob dan mencegah penurunan tanah yang disebabkan penurunan air tanah.

"Karena rob itu sudah terjadi, bukan akan. Sudah ada sebagian yang jadi, total 20,1 kilometer. Memang harus dilanjutkan," kata Marco di kantor Bappenas.

Marco menjelaskan, NCICD dan reklamasi di Teluk Jakarta merupakan dua hal yang berbeda. NCICD, kata dia, kaitannya dengan masalah air di Ibu Kota. Masalah air bermacam-macam, dari ketersediaan air minum, banjir rob, hingga air limbah yang harus dikelola dengan baik.

"Tiga (hal) itu yang menjadi PR besar, titipan Pak Kepala Bappenas," ujar dia.

Menurutnya, NCICD terdiri dari tanggul laut raksasa dan tanggul pantai. Tanggul laut ini masih dalam tahap kajian di Bappenas. Jika tanggul pantai mampu menahan rob dan mencegah penurunan tanah di DKI, kata Marco, maka tidak diperlukan pembangunan tanggul laut raksasa.

"Kita akan menghentikan reklamasi pulau-pulau, bukan menghentikan NCICD," katanya.

Beberapa waktu lalu, Bambang Brodjonegero mengatakan, proyek tanggul pantai ini akan mulai digarap pada tahun ini. Proyek ini rencananya akan memakai APBD Jakarta. Proyek tanggul pantai ini disebut Bambang akan menghabiskan sekitar Rp 9 triliun.

Ia juga mengatakan saat ini pantai utara Jakarta di beberapa titik sudah krisis penurunan tanah. Ia mengatakan ada beberapa titik yang mengalami penurunan tanah yang paling dalam. Hal ini dinilai Bambang yang menyebabkan banjir rob kerap terjadi di Jakarta.

"Tanggul pantai ini menjadi sangat penting melihat pergeseran dan penurunan permukaan tanah di Jakarta yang semakin turun setiap tahunnya. Hal ini selain menambah resiko banjir yang akan menggenangi Jakarta juga akan membuat krisis air bersih di Jakarta," katanya, Rabu (8/3).