Selasa, 03 September 2013, 23:42 WIB

LSI: Pilbup Bogor Kemungkinan Satu Putaran

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Mansyur Faqih
berita8.com
Pilkada (ilustrasi)
Pilkada (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Dari survei yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Agustus lalu, pemilihan Bupati Bogor kemungkinan berlangsung satu putaran. Hasil survei memerlihatkan, keunggulan untuk kubu Rahmat Yasin-Nurhayanti dengan dukungan warga lebih dari 30 persen.

Survei dilakukan dengan mewawancarai 440 responden secara acak dengan margin error 4,8 persen. Dikatakan, pasangan calon bupati nomor tiga itu dipilih karena warga masih menginginkan kepemimpinan keduanya. Selain itu, dukungan parti PPP yang besar di Kabupaten Bogor, secara signifikan mengalahkan PDI Perjuangan dan Partai Demokrat.

Data hasil survei elektabilitas, Rahmat Yasin-Nurhayanti dianggap paling pantas dipilih sebagai bupati dan wakil bupati dengan persentase 46,7 persen. Disusul Karyawan Faturachman-Adrian A Kusuma di posisi kedua dengan persetase 22,8 persen, Gunawan Hasan-M Akri Falaq 16,6 persen, dan Alex S Ridwan-Hengki Tarnando 3,9 persen.

Rahmat Yasin memperoleh tingkat popularitas tertinggi sebagai calon bupati hingga 93,1 persen. Sementara calon wakil bupati paling populer, M Akri Falaq. Nurhayanti, pasangan Rahmat Yasin, justru di urutan ketiga setelah Hengki Tarnando.

Untuk tingkat kesukaan, Rahmat Yasin menjadi calon bupati paling disukai dengan persentase 79,4 persen. Calon wakil bupati M Akri menjadi yang paling disukai dengan persentase 76,3 persen. Nurhayanti jadi calon wakil bupati paling disukai ketiga dengan 72,6 persen mengalahkan Henki Tarnando di urutan ke empat dengan 55,7 persen.

Direktur Riset LSI, Arman Salam menyimpulkan, pasangan Rahmat Yasin-Nurhayanti unggul dari tingkat pengenalan, kesukaan, aspek finansial kuat, dan mesin politik kuat. Kinerja yang dinilai baik oleh responden dan dukungan merata di segala segmen juga menguatkan keduanya.

Hasil penelitian juga, ungkap Arman, menunjukkan hasil publikasi, survei atau pemberitaan tidak memengaruhi kekuatan suara calon. Masyarakat masih memilih berdasarkan kesukaan.