Senin , 10 June 2013, 14:22 WIB

Jelang Ramadhan, Pedagang Diimbau Tidak Timbun Barang

Rep: Hannan Putra/ Red: A.Syalaby Ichsan
antara
Sembako di Pasar Tradisional (ilustrasi)
Sembako di Pasar Tradisional (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID KRAMAT JATI -- Lonjakan harga kebutuhan pokok yang biasanya sering terjadi jelang memasuki bulan Ramadhan dan memasuki lebaran dinilai tak jauh dari ulah pedagang usil yang menimbun barang.

Perilaku pedagang tersebut kerap membuat harga melambung tinggi karena hilang disimpan oleh para pedagang.

Asisten Teknik Unit Pasar Besar (UPB) Kramat Jati, H. Muhrodin mengatakan, kelakuan para pedagang yang menimbun barang perlu ditindak tegas oleh pemerintah. Lonjakan harga yang sangat tinggi di pasaran membuat para konsumen sangat jauh dirugikan.

“Saya sudah dengar ada yang menimbun-nimbun sembako itu. Secepatnya ditindak lah,” jelas Muhrodin saat ditemui Republika di kantornya, Senin (10/6). 

“Mereka ini setok barang kemudian di timbun. Terus berpura-pura barang seolah-olah tak ada padahal mereka penuh. Itulah taktik pedagang,” tambahnya.

Ulah spekulan yang menjadikan harga-harga melambung tinggi karena mereka menimbun barang atau mengalihkan tempat distribusi hingga harga merangkak naik barulah mereka melepas barang-barang yang dibutuhkan masyarakat.

Meningkatnya permintaan barang konsumsi pada bulan Ramadhan dijadikan kesempatan bagi para spekulan untuk meraup keuntungan yang tinggi.

Hingga saat ini, pasokan barang-barang kebutuhan pokok masih lancar dari para supplier. Harga-harga kebutuhan pokok pun masih tergolong stabil dan tidak mengalami lonjakan atau penurunan yang signifikan.

“Harapan saya pasokan bahan-bahan jangan kurang. Jangan sampai ada gejolak (harga) yang terlalu tinggi,” tambahnya. 

Berita Terkait