Monday, 31 December 2012, 21:44 WIB

Dzikir Akhir Tahun, Bentuk Keluwesan Islam

Rep: Agus Raharjo/ Red: Dyah Ratna Meta Novi
Republika/Yogi Ardhi
Dzikir Nasional Republika di Masjid At-Tin, Jakarta.
Dzikir Nasional Republika di Masjid At-Tin, Jakarta.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Hampir semua tempat di seluruh dunia merayakan malam pergantian tahun baru. Bahkan di Indonesia yang penduduknya mayoritas beragama Islam. Padahal, penanggalan Masehi bukan merupakan penaggalan umat Islam.

Di Masjid At-Tin, Jakarta Timur, Republika menggagas perayaan pergantian tahun dengan dzikir nasional. Menurut Pemimpin Redaksi Harian Republika, Nasihin Masha, kegiatan ini menunjukkan umat Islam luwes melihat perkembangan zaman. Meskipun, kata dia, Islam sudah memiliki kebudayaan sendiri.

"Tapi jika ada budaya asing masuk, kita juga bisa mengisinya dengan kegiatan yang sesuai dengan budaya kita (Islam)," kata Nasihin di Masjid At-Tin, Senin (31/12).

Nasihin menegaskan, Islam pertama kali masuk ke Indonesia juga melalui budaya. Penyebar Islam pertama di Indonesia, yang dikenal dengan wali, datang menyebarkan Islam ke masyarakat menggunakan pendekatan budaya.

Menurut Nasihin, umat Islam sekarang harus lebih kreatif dibanding wali dahulu. "Umat Islam harus rajin memproduksi budaya,"katanya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Masjid At-Tin, Maftuh Basyuni mengatakan, sudah 11 tahun Republika mengajak masjid At-Tin untuk mengisi malam tahun baru dengan dzikir nasional. Padahal, umur masjid At-Tin baru menginjak 13 tahun. Sejak masjid At-Tin berumur 2 tahun, Republika sudah mengajak menyemarakkan malam tahun baru dengan dzikir.

Maftuh menambahkan, dengan dzikir ini, umat Islam dapat mengintrospeksi diri sendiri setahun yang lalu. Apakah selama setahun lalu, yang dilakukan sudah benar? Kalau iya, kata dia, maka tahun depan harus dilanjutkan.

Kalau tidak, tambah Maftuh, tahun depan harus ada perbaikan. Selama ini, perayaan tahun baru identik dengan hura-hura oleh kaum muda-mudi. Bahkan, saat ini kaum tua juga sudah banyak yang mengisi kegiatannya dengan hura-hura.

"Kalau dibiarkan, maka Republik yang telah dibangun oleh pendahulu kita akan sia-sia," kata Maftuh.

loading...