Senin , 01 Oktober 2012, 12:06 WIB

Sudah Diteliti, Kenaikan Tarifk KRL Dinilai Sesuai Kemampuan Masyarakat

Red: Ajeng Ritzki Pitakasari
ANTARA/Reno Esnir
Penumpang turun dari kereta di Stasiun Manggarai, Jakarta, Senin (17/9). PT. KAI berencana menaikkan tarif KRL commuterline Jabodetabek sebesar Rp.2000 per 1 Oktober 2012 mendatang, untuk meningkatkan pelayanan terhadap pengguna angkutan tersebut.
Penumpang turun dari kereta di Stasiun Manggarai, Jakarta, Senin (17/9). PT. KAI berencana menaikkan tarif KRL commuterline Jabodetabek sebesar Rp.2000 per 1 Oktober 2012 mendatang, untuk meningkatkan pelayanan terhadap pengguna angkutan tersebut.

REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK--Keputusan menaikkan  tarif Rp2.000 Kereta rel Listrik (KRL) Commuter Line diambil demi menutupi kekurangan anggaran perawatan. "Sedih juga harus dibebankan pada penumpang namun apa daya tidak ada pilihan lain," Sekretaris Perusahaan PT Kereta Api Commuter Jabodetabek, Makmur Syaheran, di Depok, Senin (1/10)

Ia juga mengatakan sebagai anak perusahaan harus dapat menghidupi diri sendiri. Dengan cara memaksimalkan potensi yang ada. "Biaya perawatan rutin memakan anggaran yang sangat besar," katanya.

Makmur mengatakan kenaikan kurs dolar yang di atas Rp9.500 per dolar AS tentunya berpengaruh pada pengadaan suku cadang kereta karena 90 pesen suku cadang masih impor. Mengenai adanya perpindahan penumpang Commuter Line ke kereta ekonomi akibat kenaikan harga karcis tersebut, Makmur mengatakan belum melihat ada gejala seperti itu karena baik itu Commuter Line maupun kereta ekonomi mempunyai pasar tersendiri.

Sebelumnya Direktur Keuangan KCJ Tri Handoyo mengatakan untuk mengambil kebijakan menaikkan karcis KRL pihaknya telah melakukan kajian terlebih dulu dengan menggandeng Universitas Indonesia.

"Kami tidak sembarangan begitu saja menaikkan harga, tentunya dengan melakukan kajian yang cukup dalam. Sejak beberapa bulan lalu kami bekerja sama dengan lembaga riset UI," ujarnya.
Menurut dia salah satu pertimbangan untuk menaikkan harga sebesar Rp2.000 itu adalah dengan melihat hasil riset lembaga penelitian UI mengenai kesediaan konsumen membayar berdasarkan persepsi kualitas dan pelayanan yang diterima.

Menurutnya, dari hasil riset tersebut, rata-rata konsumen untuk Bogor-Jakarta menyatakan rela membayar Rp8.724, Sehingga cukup mendekati dari tarif yang akan dipatok Rp9.000.

Kemudian untuk rute Depok-Jakarta survei tersebut mencatat masyarakat mampu membeli tiket seharga Rp8.929. Padahal tarif akan menjadi Rp8.000. Untuk Depok-Jakarta bahkan mampu membayar lebih Rp8.000, ini mungkin karena tingkat pendapatan warga antar wilayah tersebut lebih tinggi.

Sumber : Antara