Tuesday, 2 Syawwal 1435 / 29 July 2014
find us on : 
  Login |  Register

Jimly: UU No 29/2007 Tentang Pemprov DKI Lex Specialis

Friday, 13 July 2012, 18:57 WIB
Komentar : 0
Republika/Yogi Ardhi
Jimly Asshiddiqie
Jimly Asshiddiqie

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Pakar Hukum Tata Negara, Jimly Asshidiqie, mengatakan, Undang-Undang (UU) Nomor 29 Tahun 2007 tentang Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta bersifat lex specialis atau khusus.

Karenanya, tidak ada pemberlakuan untuk aturan lainnya, seperti  UU No. 12/2008 tentang perubahan kedua UU 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. "Jadi sudah konstitusional dan diatur UU," ungkap Jimly ketika dihubungi, Jumat (13/7).

Karena adanya aturan tersebut, contoh Jimly, wali kota di Ibu Kota menjadi tidak perlu dipilih. Hal itu jelas berbeda dengan daerah lain yang mesti melakuka pemilihan langsung terlebih dahulu.

Beberapa waktu silam, ungkap mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini, seseorang pernah melayangkan permohonan judicial review agar UU Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta untuk diubah. Pemohon, ungkap Jimly, meminta untuk diadakan pemilihan langsung wali kota.

Namun, permohonan uji materiil itu ditolah MK. Alasannya, jelas Jimly, karena UU tersebut sudah konstitusional dan tidak melanggar aturan manapun. Juga karena dalam Pasal 18 B ayat (1) sudah menyatakan, negara memberikan pengakuan dan menghormati satuan pemerintah daerah yang bersifat khusus dan istimewa. "Jadi Jakarta itu telah diakui dan diatur dalam UU," tegasnya.

Selain itu, Ketua Dewan Kehormatan dan Penyelenggaran Pemilu (DKPP) ini mengatakan, dalam pemilihan gubernur yang diadakan, pasangan calon harus mendapatkan 50 persen plus satu untuk dapat memenangkan ajang lima tahunan tersebut.

Jika tidak, maka proses harus dilanjutkan melalui putaran kedua. Karena itu, Jimly menegaskan bahwa penyelenggaran Pemilukada DKI Jakarta telah sesuai peraturan perundang-undangan.

Ketika ditanya motif di balik permohonan judicial review UU tersebut ke MK, menurut dia setidaknya terdapat tiga hal. Pertama, adalah sebagai pendukung pasangan calon yang memimpin perolehan suara untuk bisa cepat menjadi gubernur. Kedua, adalah manuver pasangan lain untuk memutarbalikkan citra lawannya yang tengah memimpin. "Bisa jadi mencari popularitas," kata dia.

Reporter : Ahmad Reza Safitri
Redaktur : Djibril Muhammad
"Tidak masuk surga orang yang ada dalam hatinya seberat biji sawi dari kesombongan"((HR Muslim))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Jadi Khatib Shalat Ied, Teuku Wisnu: Awalnya Saya Mau Mundur
 JAKARTA -- Teuku Wisnu bertindak menjadi Khatib pada Salat Ied di Masjid Lautze, Senin (28/7). Ini merupakan kali pertama Ia melakukannya. Wisnu sendiri sempat...