Senin, 6 Ramadhan 1439 / 21 Mei 2018

Senin, 6 Ramadhan 1439 / 21 Mei 2018

Dokter: Tak Ada Benjol Sebesar Bakpao di Dahi Setnov

Kamis 26 April 2018 15:11 WIB

Red: Andri Saubani

Terdakwa kasus korupsi KTP Elektronik Setya Novanto berada di mobil tahanan usai menjalani sidang putusan di pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Selasa (24/4).

Terdakwa kasus korupsi KTP Elektronik Setya Novanto berada di mobil tahanan usai menjalani sidang putusan di pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Selasa (24/4).

Foto: Antara/Sigid Kurniawan
Mantan pengacara Setnov, Fredrich Yunadi menjalani sidang di Pengadilan Tipikor.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dokter spesialis jantung RS Medika Permata Hijau Mohamad Toyibi mengaku tidak melihat luka di dahi Setya Novanto (Setnov) sebesar bakpao seperti yang disampaikan mantan pengacaranya, Fredrich Yunadi di hadapan media. Keterangan itu diberikan Toyibi saat bersaksi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (26/4).

"Saya hanya lihat beliau (Frederich) menyatakan menurut beliau yang saya dengar dan lihat di media 'Mobilnya beliau (Setnov) hancur, cur, cur, cur dan kedua pasiennya sendiri lukanya parah sekali sehingga di kepala ada satu benjolan sebesar bakpao, itu yang saya dengar'," kata dokter Toyibi dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis.

Dokter Toyibi bersaksi untuk mantan pengacara Ketua DPR Setya Novanto, Fredrich Yunadi yang didakwa bersama-sama dengan dokter RS Medika Permata Hijau Bimanesh Sutarjo yang menghindarkan Setnov diperiksa dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi KTP elektronik. "Saya lihat saat memeriksa oh ternyata yang kemarin disebut tidak cocok dengan yang saya lihat," ungkap Toyibi.

Saat memeriksa Setnov di ruang 323 RS Medika Permata Hijau pada 17 November 2017 sekitar pukul 11.00 WIB, Toyibi yang diminta dokter Bimanesh untuk mengevaluasi kondisi jantung Setnov juga tidak melihat kondisi kegawatan.

"Tidak ada kegawatan sama sekali dan permintaan hanya evaluasi, 'EKG' (elektrokardiogram) yang dikirimkan juga tidak ada kegawatan sama sekali yaitu perekaman dari listrik jantung dengan menempelkan elektrode di dada dan dari situ akan keluar grafik yang bisa dilihat ada kegawatan atau tidak dan ternyata tidak ada," jelas Toyibi.

Toyibi juga sempat berkomunikasi singkat dengan Setnov. "Kondisi pasien baik, meski agak mengantuk-ngantuk beliau mengatakan silakan," ungkap Toyibi.

Sekali lagi Toyibi pun menegaskan bahwa tidak ada kegawatan tekanan darah tinggi (hipertensi emergency) yang diderita Setnov.

"Tidak ada hipertensi emergency karena kalau kegawatan terjadi kalau ada satu target organ kena, ada baal, kelumpuhan atau sulit bicara, mata kabur tapi tanpa gejala itu bukan emergency. Semuanya saya tuangkan dalam 'medical record' pasien dan kesimpulannya juga bahwa pasien itu transportable atau dapat dipindahkan bila ingin dilakukan pemindahan," tutur Toyibi, menjelaskan.

Atas kesaksian Toyibi itu, Fredrich pun langsung membantahnya.

"Bisa saya putarkan rekamannya dari Metro TV dan TV One, menurut keterangan yang saya peroleh dari ajudan Pak SN bahwa Pak SN mengalami kecelakaan mobil kaca pecah semua hancur, cur, cur, cur, itu menurut keterangan ajudan," tegas Fredrich dengan nada tinggi.

"Apakah saksi mengikuti beritanya semua?" tanya Ketua Majelis Hakim Syaifudin Zuhri mencoba menengahi.

"Tidak hanya sekilas saja," jawab Toyibi.

"Jadi hanya melihat sepotong dan itu asumsi bahwa penyataan itu adalah pendapat saya ya?" tanya Fredrich hampir berteriak.

"Sudah dijawab tadi oleh saksi hanya melihat sebagian tayangan," cegah hakim Syaifudin.

"Apakah tahu jendol Setnov menurut keterangan ajudan?" tanya Fredrich lagi.

"Tidak," jawab dokter Toyibi.

"Jadi tidak mendengar seluruhnya," ucap Fredrich mulai tenang.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES