Rabu , 29 November 2017, 22:10 WIB

KPK Belum akan Panggil Paksa Dua Anak Setnov

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Bayu Hermawan
Republika/Iman Firmansyah
Penjelasan. Wakil Ketua KPK Basriah Padjaitan (Kanan) dan Juru Bicara KPK Febri Diansyah (Kiri) memberikan penjelasan terkait OTT Anggota DPRD Provinsi Jambi saat konfrensi pers di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (29/11).
Penjelasan. Wakil Ketua KPK Basriah Padjaitan (Kanan) dan Juru Bicara KPK Febri Diansyah (Kiri) memberikan penjelasan terkait OTT Anggota DPRD Provinsi Jambi saat konfrensi pers di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (29/11).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Ketua KPK, Basaria Panjaitan mengatakan KPK belum akan melakukan pemanggilan paksa terhadap dua anak Ketua DPR RI Setya Novanto sebagai saksi untuk kasus korupsi proyek pengadaan KTP-elektronik. Pekan lalu, Rheza Herwindo dan Dwina Michaella, diagendakan pemeriksaan oleh penyidik KPK sebagai saksi. Namun keduanya mangkir tanpa alasan.

"Akan coba dulu dipanggil secara biasa, itu kan prosedurnya normal saja saya pikir. Panggil, lalu kalau tidak hadir bari kami lakukan upaya paksa. Kalaupun di luar negeri, kami buat daftar pencarian orang (DPO), itu semua ada tingkatannya," ujar Basaria di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (29/11).

Hal senada diungkapkan Kabiro Humas KPK Febri Diansyah, menurutnya KPK akan melakukan penjadwalan ulang terhadap dua anak Setya Novanto, Rheza Herwindo dan Dwina Michaella, yang tidak memenuhi panggilan pemeriksaan sebagai saksi untuk tersangka Anang Sugiana Sudiharjo. Penyidik, lanjut Febri, masih membutuhkan informasi dari keduanya.
 
"Karena memang perusahaan Murakabi tersebut dan pihak-pihak yang terkait perlu kita dalami dan perlu kita cari tahu," ucapnya.
 
Rheza dan Dwina diduga mengetahui proyek KTP-el. Karena saat proyek KTP-el bergulir, Dwina merupakan komisaris PT Murakabi Sejahtera, salah satu peserta tender proyek di Kementerian Dalam Negeri Murakabi membentuk konsorsium bersama perusahaan lainnya.
 
Konsorsium Murakabi diduga sengaja dibentuk oleh Tim Fatmawati untuk mendampingi Konsorsium Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI), yang disiapkan untuk menggarap proyek KTP-el. Selain Dwina, di PT Murakabi juga ada keponakan Setnov, Irvanto Hendra Pambudi.
 
Sementara Rheza merupakan pemegang 30 saham PT Mondialindo Graha Perdana, bersama istri Novanto, Deisti Astriani Tagor yang memiliki 50 persen saham. PT Mondialindo diketahui sebagai salah satu pemegang saham PT Murakabi.
 
Namun, dua perusahaan tersebut diklaim sudah dijual ke pihak lain. Novanto sendiri mengaku tak tahu bila ada nama-nama keluarganya dalam dua perusahaan tersebut.