Rabu , 09 Agustus 2017, 18:58 WIB

Keluarga Sempat Menolak Autopsi Jenazah Joya

Rep: Arif Satrio Nugroho/ Red: Andri Saubani
Republika/Dea Alvi Soraya
Makam Muhammad Alzahra alias Joya dipenuhi warga yang ingin menyaksikan pengotopsian jenazah. Rabu (9/8).
Makam Muhammad Alzahra alias Joya dipenuhi warga yang ingin menyaksikan pengotopsian jenazah. Rabu (9/8).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Autopsi terhadap jenazah Muhammad Aljahra alias Joya yang menjadi korban pembakaran dan pengeroyokan karena diduga keras mencuri amplifier mushola dilakukan hari ini, Rabu (9/8). Kuburan Joya pun digali untuk proses tersebut.

Kapolres Metro Kabupaten Bekasi Komisaris Besar Polisi Asep Adi Saputra menyatakan, pihak keluarga awalnya sempat menolak untuk dilakukan autopsi pada jenazah Joya. Sehingga, baru hari ini polisi baru melakukan autopsi tersebut.

"Benar hari ini kita gali kubur dan kita otopsi, mengapa hari ini karena pada saat kejadian penyidik seharusnya sesegera mungkin, tapi permintaan keluarga MA menolak," ujar Asep di Mapolda Metro Jaya, Rabu (9/8).

Namun, menurut Asep, dengan catatan apabila suatu saat polisi membutuhkan, akan dipersilakan. Sedangkan saat ini, autopsi pun dibutuhkan untuk memperjelas kasus hukum. "Sudah dilakukan tadi bekerja sama forensik Mabes Polri untuk mengetahui secara tepat dan akurat apa yang menjadi meninggalnya Joya," ujarnya.

Asep menjelaskan, autopsi itu memerlukan proses sehingga publik mengetahui penyebab utama meninggalnya Joya. Polisi pun masih menunggu hasil tersebut dari bagian Forensik Polri. "Yang jelas ini dua kekerasan, kita akan mendapat jawaban apakah karena kekerasan atau karena pembakaran. Secara fisik 80 persen pembakaran," kata Asep.