Jumat , 14 Juli 2017, 23:13 WIB

Mahendradatta: Ada Pembunuhan Karakter Keluarga Hermansyah

Rep: Ali Mansur/ Red: Bilal Ramadhan
Republika/Rusdy Nurdiansyah
Istri korban pembacokan pakar IT ITB, Hermansyah yakni Iriana yang merupakan WNA Rusia sedang mengecek barang bukti kendaraan mobil Avanza putih B 1068 ZFT di RS Hermina, Depok, Ahad (9/7).
Istri korban pembacokan pakar IT ITB, Hermansyah yakni Iriana yang merupakan WNA Rusia sedang mengecek barang bukti kendaraan mobil Avanza putih B 1068 ZFT di RS Hermina, Depok, Ahad (9/7).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Tim Pengacara Muslim, Muhammad Mahendradatta mengutuk keras para penyebar isu Irina merupakan mantan Pekerja Seks Komersial (PSK) sebelum menjadi istri ahli informasi teknologi (IT), Hermansyah. Sementara ada upaya mengorek sisi negatif keluarga Hermansyah, dan mengungkap sisi positif pelaku. Mahendradatta menganggapnya sebagai pembunuhan karakter.

"Saya pikir jaman ini ada perbedaan dengan sebelumnya. Kalau sekarang berbeda, sekeluarga dibunuh karakter. Sadis ini yang melakukan ini," kecam Mahendradatta, saat dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat (14/7).

Menurut Mahendradatta, justru dengan adanya pembunuhan karakter tersebut, membuka pandora yang sebenarnya. Maka dengan demikian semakin memperlihatkan bahwa serangan terhadap Hermansyah ini bukan kejahatan spontan, tapi ada sesuatu hal yang harus diungkap. Karena sangat sulit mengungkapkan kebenaran jika hanya digali dari pengakuan pelaku semata.

Selain itu dengan adanya isu negatif yang menyerang Hermansyah dan melambungkan sisi positif pelaku, bisa diperkirakan ada aktor intelektualnya dalam kasus ini. Kemudian, kata Mahendradatta pembunuhan karakter tersebut menjatuhkan kredibilitas Hermansyah sebagai saksi ahli. Bagi para pelaku pembunuhan karakter itu menginginkan stigma masyarakat akan negatif terhadap Hermansyah dan keluarganya.

Selain itu, Mahendradatta menyebut kasus penyerangan terhadap Hermansyah sebagai sebuah peringatan. Bukan hanya masalah Hermansyah-nya, tapi minimal menurutnya bisa menimbulkan rasa ketakutan ahli-ahli IT yang lain untuk berbicara benar.

"Sekarang ini upaya pembangunan opini ketakutan terhadap saksi-saksi ahli mulai diperkuat dengan cara pembunuhan karakter," tutupnya.