Ahad , 18 June 2017, 13:52 WIB

Pengamat: Curhat Novel Mestinya Picu Polisi Bekerja Keras

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Nur Aini
ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Penyidik KPK Novel Baswedan tiba untuk menjalani perawatan di RS Jakarta Eye Center, Jakarta, Selasa (11/4).
Penyidik KPK Novel Baswedan tiba untuk menjalani perawatan di RS Jakarta Eye Center, Jakarta, Selasa (11/4).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat hukum pidana dari Universitas Trisakti Abdul Fickar Hadjar berpendapat, sinyal adanya keterlibatan Jenderal Polisi dalam kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior pada KPK Novel Baswedan mestinya bisa menjadi pemicu polisi untuk bekerja lebih keras untuk menyelesaikan kasus teror terhadap sesama penegak hukum tersebut.

"Bahwa ada sinyal keterlibatan seorang yang disebut jendral oleh Novel harus ditempatkan sebagai stimulan atau pemicu untuk polisi bekerja lebih keras, bekerja menuntaskan kasus teror ini," kata Fickar saat dihubungi Republika.co.id, Ahad (18/6).

Fickar mengungkapkan, polisi sebagai penanggung jawab keamanan dalam negeri mempunyai kewajiban utama membongkar siapa pelaku teror penyiraman air keras terhadap Novel. Apalagi, menurutnya jika dilihat dari kemampuan, sarana, dan waktu yang lebih dari cukup, polisi seharusnya dapat menuntaskan kasus teror penyiraman air keras ini.

"Kemampuan, sarana, dan waktu yang lebih dari cukup, bahkan petunjuk bukti-bukti yang ada sebagaimana diungkapkan majalah Tempo, seharusnya polisi dapat menuntaskan kasus teror penyiraman air keras ini, siapapun pelaku dan intelektual kadernya," kata Fickar.

Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi Novel Baswedan buka suara mengenai kasus penyiraman air keras terhadap dirinya. Dalam sebuah wawancara kepada Time, Novel mengatakan bahwa serangan itu terkait sejumlah kasus korupsi yang ditanganinya.

Novel kemudian berharap polisi bisa segera menemukan pelakunya. Namun, sekitar dua bulan sejak peristiwa itu terjadi, polisi hingga kini belum menemukan pelakunya. Novel pun menduga ada "orang kuat" yang menjadi dalang serangan itu. Bahkan, dia mendapat informasi bahwa seorang jenderal polisi ikut terlibat. "Saya memang mendapat informasi bahwa seorang jenderal polisi terlibat," kata Novel kepada Time.