Rabu , 07 Juni 2017, 20:28 WIB

Kerabat Kritik Cara Densus Geledah Rumah Terduga Teroris

Rep: Issha Harruma/ Red: Ilham
FOTO ANTARA/Akbar Nugroho Gumay
Anggota Densus 88 Anti Teror. (ilustrasi).
Anggota Densus 88 Anti Teror. (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, MEDAN -- RA, terduga teroris yang diringkus di Medan sehari-harinya diketahui sebagai tukang urut dan pedagang. Dia pun dikenal sebagai sosok yang rajin ikut dalam kegiatan pengajian.

"RA sehari-harinya sebagai pedagang minyak wangi, tukang urut dan bekam. Istrinya ibu rumah tangga," kata abang ipar RA, Boy Effendi (40 tahun) saat ditemui Republika.co.id, Rabu (7/6).

Rumah RA di Jalan Jermal XII Gang Haji, Denai, Medan Denai, Medan, digeledah, Rabu (7/6) siang. Penggeledahan ini disebut terkait penangkapan si pemilik rumah yang diduga teroris.

Rumah berwarna hijau muda tersebut dihuni oleh RA beserta istri dan empat anaknya. Penggeledahan dilakukan personel Densus 88 Anti Teror bersenjata laras panjang yang datang menggunakan tiga mobil.

Boy mengaku tidak percaya jika RA terlibat tindak pidana terorisme. Menurut dia, sehari-harinya, suami adiknya itu dikenal sebagai sosok yang sering mengikuti pengajian. "Enggak mungkin dia teroris. Saya abang iparnya. Kalau memang teroris, darimana dia dianggap teroris, apa sebabnya?" ujar dia.

"Dia orang baik, ikut pengajian. Kehidupannya kita nggak tahulah. Dia ngaji di masjid Taufik di Pancing, Tembung, di masjid sini juga rajin. Kita enggak tahu dia teroris atau enggak," kata Boy lagi.

Boy pun mengkritik penggeledahan yang dilakukan terhadap rumah RA. Dia berharap polisi tidak sewenang-wenang memperlakukan adik iparnya itu. "Polisi itu sewenang-wenang dia datang. Barang kami diseraknya, pintu ditendang. Sesuka hati dia datang. RA dipukul juga aku dengar," ujar dia.