Jumat , 06 Desember 2013, 23:28 WIB

Nazaruddin: Saya Mau Dibunuh

Rep: Irfan Fitrat/ Red: Karta Raharja Ucu
 Terpidana kasus Wisma Atlet Muhammad Nazaruddin (kanan) disela-sela persidangan saat menjadi saksi untuk istrinya Neneng Sri Wahyuni (kiri0 di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Selasa (8/1). (Republika/Yasin Habibi)
Terpidana kasus Wisma Atlet Muhammad Nazaruddin (kanan) disela-sela persidangan saat menjadi saksi untuk istrinya Neneng Sri Wahyuni (kiri0 di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Selasa (8/1). (Republika/Yasin Habibi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mantan bendahara umum Partai Demokrat, M Nazaruddin mengaku sedang berada dalam ancaman.

Pernyataan itu disampaikan Nazaruddin usai menjalani pemeriksaan panjang selama tiga hari di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). "Saya ini sekarang posisinya terancam," kata Nazar kepada wartawan, Jumat (6/12).

Ancaman itu datang karena Nazar rajin 'bernyanyi' soal sejumlah proyek yang berpotensi korupsi. Salah satunya proyek pengadaan E-KTP. Nazar mengungkap Bendahara Umum Partai Golkar, Setya Novanto terlibat dalam proyek tersebut.

Ia mengatakan, telah menyampaikan kepada penyidik beberapa pertemuan dengan Setya. Ia juga mengungkap ada aliran uang dalam proyek tersebut. "Yang sudah terima di Kemendagri itu siapa saja. Apakah Mendagri, itu ada adiknya. Terus ada sekjennya," tutur Nazar.

Namun, karena sikapnya itu ia mengaku mendapat ancama. Ia menuding Setya yang telah mengancam dirinya dan saudaranya. Menurut Nazar, Setya mengetahui berbagai informasi yang telah diungkapkannya di KPK atau kelakuannya di LP Sukamiskin. "Kalau saya buka lagi proyek E-KTP, saya mau dibunuh dia," ujar bos Permai Group itu.

Namun, Nazar mengaku tidak takut. Ia menilai permainan di balik proyek E-KTP harus diungkap. Karena, masih kata Nazar, ada penggelembungan harga yang sangat besar dalam proyek tersebut. "Mark-up uang negaranya Rp 2,5 triliun. Ini yang harus dibuka," tutup Nazar.