Saturday, 28 Safar 1436 / 20 December 2014
find us on : 
  Login |  Register

Diduga Terima Uang, Direktur Perdata Kemenkumham Mundur

Wednesday, 09 October 2013, 21:53 WIB
Komentar : 3
Antara
Amir Syamsuddin (kanan)
Amir Syamsuddin (kanan)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Perdata pada Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (Ditjen AHU) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham), Lilik Sri Haryanto, diduga menerima gratifikasi berupa uang besar Rp 95 juta. Lilik pun menyatakan mengundurkan diri.

"Permohonan pengunduran diri saudara Lilik dari jabatannya sebagai Direktur Perdata, Direktorat Jenderal AHU sedang dipertimbangkan," kata Menteri Hukum dan HAM, Amir Syamsudin, dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Rabu (9/10).

Penerimaan uang ini diduga terkait dengan penempatan notaris di beberapa wilayah. Kasus ini terungkap dari adanya laporan yang diterima Wakil Menkumham, Denny Indrayana yang ditindaklanjuti tim pemeriksa dari Irjen Kemenkumham.

Tim pemeriksa menanyakan mengenai adanya laporan penyerahan uang kepada Lilik dan Lilik pun mengakui telah menerima amplop coklat yang berisi uang yang tidak diketahui jumlahnya.  Menurut Amir, proses investigasi dilakukan mulai Jumat (4/10).

Tim pemeriksa juga mendatangi kediaman Lilik dan menghitung uang dalam amplop tersebut yang ternyata berisi sebanyak Rp 95 juta. Maka itu, Amir membantah adanya kabar yang menyatakan Lilik tertangkap tangan menerima uang tersebut oleh Denny Indrayana.

Amir juga telah memerintahkan kepada Lilik untuk melaporkan penerimaan uang tersebut kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Langkah penertiban di internal Kemenkumham juga diklaim telah dilakukan.
Akibatnya, Lilik pun mengajukan surat pengunduran dirinya kepada Menkumham, Amir Syamsudin. Saat ini pengunduran diri Lilik tengah dipertimbangkan oleh Menteri Hukum dan HAM, Amir Syamsudin.

Sementara itu, juru bicara KPK, Johan Budi SP mempersilahkan Lilik maupun pihak Kemenkumham untuk melaporkan penerimaan uang. Nantinya, KPK akan mengkaji apakah uang tersebut gratifikasi atau suap. "Sampai hari ini kami belum terima laporannya," ujar Johan dalam jumpa pers di Gedung KPK.

Reporter : Bilal Ramadhan
Redaktur : Dewi Mardiani
Anas Ra, pembantu rumah tangga Nabi Saw berkata, “ Aku membantu rumah tangga Nabi Saw sepuluh tahun lamanya, dan belum pernah Beliau mengeluh “Ah” terhadapku dan belum pernah Beliau menegur “kenapa kamu lakukan ini atau kenapa tidak kau lakukan ini.((HR. Ahmad))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Gerakan Kelompok Ekstrimis, Din: Lawan dengan Ideologi
JAKARTA -- Menghadapi kelompok ekstrimis tak cukup dengan saling mengecam. Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, Din Syamsudin menjelaskan harus ada tanding ideologi. Ia...

Berita Lainnya

Penggugat Sengketa Pilkada Gunung Mas Kecewa

MK Tolak Gugatan Sengketa Pemilukada Gunung Mas

Terkait Akil, KPK Belum Temukan Kasus Suap Pilkada Lain