Selasa, 27 Zulhijjah 1435 / 21 Oktober 2014
find us on : 
  Login |  Register

Protokol Presiden PKS: 'Ana' Saja tidak Kenal dengan AF

Kamis, 31 Januari 2013, 06:47 WIB
Komentar : 6
republika/stevy maradona
Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaaq saat jumpa pers di Gedung DPP PKS, Jakarta, Rabu (30/1).
Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaaq saat jumpa pers di Gedung DPP PKS, Jakarta, Rabu (30/1).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Protokol Presiden Partai Keadilan Sejahtera Luthfi Hasan Ishaaq, Ayi Muzayni mengungkapkan, penangkapan terhadap Luthfi terkesan sangat janggal.

Selama mendampingi Luthfi, dia mengaku tidak mengetahui Ahmad Fathanah atau AF yang disebut-sebut sebagai orang dekat Luthfi. Juga dengan perempuan muda yang disebut turut dalam transaksi beridentitas Maharani.

"Ana saja tidak kenal dengan Ahmad Fathanah Padahal hampir setiap menit saya mendampingi LHI,"ujarnya melalui pesan blackberry, Kamis (31/1). Dia pun meminta kepada semua kader PKS agar bersabar menghadapi cobaan. Pasalnya, tutur Ayi, fitnah dan tuduhan yang sama sempat mendera Luthfi menjelang pemilu 2004 dan 2009 lalu.

"Jadi bersabarlah sampai Allah menolong kita dari semua cobaan ini,"ujarnya. Dia pun meminta kepada semua kader PKS untuk menunggu klarifikasi dari pejabat PKS yang berwenang.

KPK sudah menetapkan Luthfi sebagai tersangka pada Rabu (30/1) malam. Bersama Luthfi, penyidik menetapkan tiga tersangka lainnya yakni dua direktur PT. Indoguna Utama Juard Effendi dan Arya Abdi Effendi. Serta Ahmad Fathanah.

Ahmad Fathanah ditangkap bersama Maharani oleh KPK di Hotel Le Meredien Jakarta, Selasa (29/1) sekitar pukul 20.20 WIB. Dari mereka didapatkan uang senilai Rp 1 miliar yang diduga akan diberikan kepada LHI atau Luthfi Hasan Ishaaq.

Redaktur : A.Syalaby Ichsan
Laknat Allah bagi penyuap dan yang menerima suap((HR Ahmad, Abu Dawud dan at-Tirmidzi))
FOTO TERKAIT:
VIDEO TERKAIT:
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Konversi Minyak ke Gas, Bisakah?
JAKARTA -- Konversi minyak ke gas bisa menjadi cara pemerintah untuk mengurangi konsumsi BBM di Indonesia. Pelaksana tugas Direktur Utama Pertamina Muhamad Husen...